25 July 2021, 06:20 WIB

Soal Varian Lambda, Warga Harus Patuh Prokes & Segera Vaksinasi


Faustinus Nua |

MUNCULNYA mutasi baru SARS-CoV-2 yang disebut varian Lambda menambah kekhawatiran akan peningkatan penyebaran covid-19. Meski statusnya hingga kini masih dikategorikan sebagai Variant of Interest (VOI), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khawatir varian Lambda akan menimbulkan masalah epidemiologi. 

Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Maria Inge Lusida mengatakan virus korona akan terus bermutasi. Mengingat hal tersebut merupakan sifat alamiah virus untuk bertahan hidup.

Menurutnya, manghadapi ancaman virus, masyarakat harus tetap waspada dengan mematuhi protokol kesehatan dan segera vaksinasi.

"Apapun variannya, solusinya adalah patuh terhadap 5M dan segera vaksinasi, jangan tunda vaksinasi," ungkapnya dalam keterangan resmi Unpad, Minggu (25/7).

Dijelaskannya, varian Lambda memang berpotensi pada penyebaran virus yang lebih cepat. Selain itu, Lambda juga dicurigai dapat menghindar dari antibodi. 

Sedangkan terkait efikasi vaksin, kata Inge, diperlukan lebih banyak riset untuk menarik kesimpulan.

"Data dari WHO memang belum menampilkan bagaimana efikasi vaksin terhadap Lambda ini. Masih perlu banyak penelitian lebih lanjut," terangnya.

Baca juga: Gus Muhaimin Beri Saran Penanganan Covid-19 Varian Delta dan Lambda

Dia menyampaikan selamanya manusia akan hidup berdampingan dengan covid-19. Terlebih lagi, mutasi virus korona tidak dapat diprediksi, apakah kemungkinan semakin jinak atau justru berbahaya. Untuk itu, diperlukan upaya pencegahan yang serius agar pandemi segera berakhir.

"Jika vaksinasi sudah 100% dan prokes selalu dilakukan, kemungkinan tidak perlu hingga bertahun-tahun untuk bersahabat dengan covid-19," tukasnya.

Adapun, varian Lambda pertama kali diidentifikasi pada Agustus 2020 di Peru. Hingga April 2021, lebih dari 81% kasus Covid-19 di Peru dikaitkan dengan Lambda. 

Setelah Peru, per Juni 2021, varian tersebut terdeteksi telah menyebar luas di 29 negara di dunia. Sebagian besar di Amerika Latin, termasuk Argentina dan Cile.(OL-5)

BERITA TERKAIT