24 July 2021, 15:10 WIB

Stok Obat Covid-19 Habis, Pemerintah Sebut Masalah Distribusi dan Impor


Atalya Puspa | Humaniora

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting mengungkapkan, kelangkaan obat covid-19 di sejumlah wilayah disebabkan oleh masalah distribusi. "Masalahnya ada di distribusi," kata Alexander saat dihubungi, Sabtu (24/7).

Seperti diketahui, sebelumnya Presiden Joko Widodo melakukan sidak ke salah satu apotek yang berada di wilayah Villa Duta, Kota Bogor. Dari kunjungan tersebut, diketahui bahwa terdapat sejumlah obat-obatan yang mengalami kekosongan, yakni Oseltamivir dan Favipiravir.

Alex melanjutkan, dalam hal ini semestinya semua perusahaan farmasi mulai dari BUMN, hingga perusahaan swasta harus ambil bagian dalam memastikan stok obat-obatan di tengah masyarakat terkendali, khususnya untuk distribusi.

Baca juga: BNPB Minta BPBD Lakukan 8 Langkah Cegah Karhutla

"Semua perusahaan farmasi harus dilibatkan. BUMN, private sector, GP farmasi, industri, harus ikut serta," ucap Alex.

Terpisah, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengngkapkan, sebagian obat yang digunakan untuk penanganan covid-19 di Indonesia diimpor dari negara lain. Sehingga, membutuhkan waktu bagi Indonesia untuk menerima kedatangan obat-obatan tersebut.

"Kita ini berkompetisi, jadi bukan hanya vaksin saja tapi bagaimana mendapatkan obat-obatan covid-19 seperti Remdisivir, Tocilizumab," ungkap Nadia.

"Itu kan obat-obatan yang belum bisa berproduksi di dalam negeri. Sehingga kita harus dalam waktu singkat berkomunikasi dengan negara lain meminta untuk bisa mengirimkan obat-obatan tersebut ke Indonesia sebagai dukngannya," lanjutnya.

Nadia mengakui, menyediakan obat impor untuk covid-19 membutuhkan waktu. Namun demikian, ia memastikan bahwa pemerintah tidak hanya berpangku tangan menunggu kedatangan obat dengan sendirinya.

Baca jugaLuas Karhutla 1 Januari-30 Juni 2021 Mencapai 52.479 Hektare

"Kita berusaha memenuhi kebutuhan, tapi pasti akan butuh waktu. Karena ini kondisi pandemi yang walaupun kita sudah ekspektasi terjadi peningkatan, tapi kita tidak menyangka peningkatannya sampai 6 hingga 7 kali lipat dari kasus yang sudah kita perkirakan. Tapi kita terus upayakan agar stok obat terpenuhi," tutup Nadia.

Sebagai informasi, berdasarkan data yang diakses dari https://farmaplus.kemkes.go.id/ per 23 Juli 2021, berikut stok obat untuk penanganan covid-19 yang tersedia di apotek:

Azithromicyn tersedia sebanyak 260,8 ribu, Favirapir sebanyak 1,3 juta, Ivermectin sebanyak 222,8 ribu, Multivitamin sebanyak 1,5 juta, Oseltamivir sebanyak 5.283, Immunoglobulin sebanyak 9. Sementara untuk stok Remdesivir dan Tocilizumab saat ini sedang tidak tersedia sama sekali. (H-3)

BERITA TERKAIT