23 July 2021, 18:19 WIB

Bimbingan Orang Tua Diperlukan dalam Aktivitas Digital Anak


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PRESIDEN Joko Widodo disertai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah menggaungkan Kebangkitan Nasional Digital di hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei lalu, dengan sekaligus mencanangkan 4 pilar literasi digital yang mendasari seluruh gerakan nasional literasi digital di Indonesia, yaitu: Digital Skills, Digital Ethics, Digital Safety dan Digital Culture. 

Kebangkitan Nasional Digital itu harus menjadi momentum untuk memperbaiki berbagai macam kondisi yang terpuruk di dunia digital, khususnya untuk keselamatan dan keamanan anak bermain di internet dan sosial media. 

“Kemampuan literasi digital merupakan kemampuan yang paling krusial dalam menghadapi perkembangan teknologi saat ini, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak hanya mengenal teknologi, namun juga cermat dalam menggunakannya,” ujar Semuel Abrijani Pangerapan dalam webinar Keamanan Anak di Dunia Digital selama Belajar Dari Rumah yang digelar Kemenkominfo dan Siberkreasi. 

Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jumeri mengatakan,  di masa belajar dari rumah ini peran orang tua sangat penting dalam pengawasan dan pendampingan untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan kepedulian kepada anak dalam menggunakan gawai dan akses internet.

“Dengan pengawasan dan pendampingan orang tua, kita harapkan anak menjadi lebih peka terhadap segala bentuk kejahatan di media sosial dan terhindar dari resiko-resiko kejahatan di dunia maya,” kata Jumeri.

Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda Kemendikbudristek Nurfitriana mengatakan,  Kemendikbudristek telah menyediakan beberapa fasilitas pembelajaran daring, contohnya seperti: “Rumah Belajar”, para tenaga pendidik disini bisa mengakses sumber-sumber belajar yang aman bagi anak, kreatif dan gratis. 

Selain itu Kemendikbudristek juga punya aplikasi “seTARA daring” dan juga bantuan kuota internet dengan batasan-batasan keamanan konten yang bisa diakses.

“Jadi benar-benar kuota tersebut akan dimanfaatkan, akan dioptimalkan untuk belajar, untuk mengakses sumber-sumber belajar sehingga konten-konten yang dirasa tidak bermanfaat sudah di-blok,”ujar Nurfitriana.

Baca juga : Lagu Anak-anak Harus Ajarkan Budi Pekerti

Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime Komisi Perlindungan Anak Indonesia Margaret Aliyatul Maimunah memberikan beberapa tips perlindungan anak pada saat belajar dari rumah, salah satunya adalah orang tua harus dapat menjalin komunikasi yang positif dengan anak dan mendorong anak untuk dapat bersuara dan bercerita, kemudian ajarkan anak untuk menggunakan internet dengan bijak serta berikan pemahaman terkait konten yang boleh diakses dan konten yang tidak boleh diakses, sehingga anak memiliki etika yang baik dalam berinternet.

“Anak harus diberikan pemahaman bagaimana pentingnya keamanan di dunia internet sehingga anak-anak dapat dicegah dari keterlibatan dalam kejahatan cyber baik sebagai korban ataupun pelaku”, tutur Margaret.

Kepala SDN 14 Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat, Yuneldi menceritakan pengalamannya sebagai praktisi atau tenaga pendidik dalam membantu anak didik agar tetap aman dan nyaman belajar menggunakan media digital. 

Yuneldi menjelaskan, para tenaga pendidik atau guru telah memberikan bimbingan kepada anak perihal penggunaan media digital dan bagaimana cara pencarian informasi yang baik di internet, namun tentunya pihak sekolah tidak bisa terlalu jauh dalam memantau anak didik, untuk itu peran orang tua dalam membimbing dan mengawasi pemakaian ruang digital di rumah menjadi sangat penting.

“Sebagai orang tua tentunya lebih memahami situasi dan kondisi pada anak, maka bimbing dan temanilah anak belajar di rumah,” ujar Yuneldi.

Koordinator Literasi Digital Kemkominfo Rizki Ameliah menegaskan, pentingnya memiliki pemahaman literasi digital yang baik agar terjaga keamanan penggunaan media digital, oleh karena itu Kemkominfo hadir dengan program literasi digital untuk memberikan edukasi bukan kepada hanya anak saja tetapi juga kepada orang tua, guru, anak muda dan masyarakat umum untuk lebih bijak dan berpikir sebelum mem-posting sesuatu di dalam ruang digital.

“Saring sebelum sharing perlu terus dilafalkan ketika kita akan mem-posting sesuatu, kemudian juga jaga data dan informasi pribadi di media sosial,” tambah Rizki. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT