23 July 2021, 04:55 WIB

Jenderal Buah Lengkeng dari Borobudur


Siswantini Suryandari | Humaniora

SERSAN Dua (Serda) Mugiyanto tidak menyangka hidup akan berubah. Dulunya dia ialah tentara yang gagah dan cekatan. Mugiyanto ikut menjadi bagian dari operasi pengamanan daerah rawan (pamrahwan) di Ambon, Maluku, pada 2001.

Saat itu ia berangkat bersama rombongan Batalion Infanteri Raider408/Suhbrastha. Tepat pada November 2001, Mugiyanto bersama
rekan-rekannya yang sedang melaksanakan patroli lapangan tanpa sengaja menginjak ranjau darat yang mengakibatkan kaki sebelah
kanannya putus hingga cacat seumur hidup.

Akibat ledakan dahsyat ranjau darat tersebut potongan kaki Serda Mugiyanto sampai-sampai tidak bisa ditemukan. Ia mengenang kala itu ialah perjuangan antara hidup dan mati karena kondisinya terus memburuk.

Apalagi, dari lokasi kejadian ke rumah sakit setidaknya membutuhkan waktu empat hingga lima jam perjalanan karena cukup jauh dari pusat keramaian.

Sewaktu perjalanan menuju rumah sakit rekan-rekannya pun sudah berpikir buruk akan kehilangan teman seperjuangan yang kala itu masih berpangkat prajurit dua (prada). Kondisi semakin menegangkan karena hemoglobin (Hb) darahnya rendah atau sudah dalam kondisi mengkhawatirkan.

Tidak sampai di situ, mimpi buruk masih terus menyelimuti karena tim medis kesulitan menemukan golongan darah yang cocok dengan golongan darah yang dibutuhkan Serda Mugiyanto. Apalagi, wilayah itu masih termasuk kawasan rawan konflik sehingga akses tidak semudah yang dibayangkan.

Namun, takdir berkata lain. Keberuntungan berpihak pada prajurit yang dijuluki jenderal buah kelengkeng tersebut, hingga akhirnya berhasil pulih dari insiden pilu yang dialaminya.

“Di sisa hidup ini, saya bertekad harus bisa bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan negara,” ucap Serda Mugiyanto.

Setelah menyadari kondisi fisik yang harus ia terima, Serda Mugiyanto awalnya memang sedikit terpuruk. Ia tidak pernah membayangkan harus kehilangan salah satu anggota tubuhnya.

Apalagi, pada saat itu ia masih berstatus lajang atau belum menikah. 

Dengan kondisi disabilitas, bisa saja perempuan akan berpikir ulang mau menerimanya sebagai pendamping hidup.

Lagi, takdir berkata lain. Ia dipertemukan dengan Dwi Astuti Sumarwati, perempuan yang akhirnya dipersunting dan siap menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri Serda Mugiyanto.

Pasangan tersebut dikarunia tiga orang putra. Ia tiada henti bersyukur karena di balik peristiwa tragis itu, kini ia meraih keberhasilan dengan dukungan dan doa istri dan ketiganya anaknya.

“Istri yang membuat saya tetap semangat, mau menerima di saat kondisi saya cacat dan penuh keterbatasan,” ungkap dia.

Berangkat dari keterbatasan fisik akibat musibah yang menimpa dirinya sewaktu bertugas di Ambon tidak membuat semangat hidup sosok Serda Mugiyanto berputus asa.

Kini Serda Mugiyanto ialah anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Koramil 19/Borobudur Kodim
0705 Magelang, Jawa Tengah. Di selasela kesibukannya sebagai anggota Babinsa, ia juga menjadi petani buah lengkeng. Keberhasilannya sebagai petani lengkeng ini menyebabkan ia laris menjadi guru bagi petani lainnya.

Personel Babinsa ini dikenal sebagai motivator, petani, koordinator petani, hingga dijuluki sebagai ‘Jenderal Buah Lengkeng’ oleh Kementerian Pertanian karena keberhasilannya merangkul dan membina hingga 10 ribu petani dari Sabang sampai Merauke.


Kenaikan pangkat

Puncaknya pada 2019, sang ‘Jenderal Buah Lengkeng’ ini mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari kopral kepala (kopka) naik menjadi serda atas dedikasinya yang begitu luar biasa dan memotivasi banyak orang. Kenaikan pangkat luar biasa diberikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa.

Kini, berbekal kaki palsu sebelah kanan, kegigihan dan semangat seorang prajurit TNI, Serda Mugiyanto tidak hanya menjadi motivator bagi petani di Tanah Air, tetapi juga motivator untuk prajurit TNI yang juga penyandang disabilitas atau bernasib sama dengan dirinya.

Bahkan, tak jarang ia diundang langsung oleh Kementerian Pertahanan untuk memberikan arahan atau berbagi ilmu kepada prajuritprajurit TNI penyandang disabilitas. “Pada intinya, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi,” ujarnya.


Petani lengkeng

Di balik usaha keras yang diperjuangkannya selama bertahuntahun, Serda Mugiyanto selalu bermimpi seharusnya Indonesia yang memiliki sumber daya alam berkecukupan. Indonesia punya tanah yang subur dan kondisi alam yang mendukung bisa swasembada atau memenuhi kebutuhan buah lokal tanpa harus bergantung pada negara lain.

Selama ini banyak lahan tidur yang tidak digarap secara optimal oleh masyarakat. Padahal, jika tanah tersebut dikelola dengan baik, segala kebutuhan pangan termasuk buahbuahan bisa tercukupi tanpa harus bergantung pada pihak lain.

Di samping itu, ia melihat tekad dan kemauan dari masyarakat untuk berani betul-betul terjun sebagai petani belum sepenuh hati.

“Bisa jadi dikarenakan stigmastigma keliru yang selama ini berkembang,” kata Mugiyanto.

Ia mencontohkan ada anggapan pekerjaan petani atau menjadi petani ialah pekerjaan rendah. Bertani itu kotor, pendapatan tidak seberapa hingga tidak bisa menggunakan teknologi dalam bercocok tanam.

“Padahal, anggapan itu keliru jika ada yang berpandangan pekerjaan petani itu rendah, kotor, penghasilan pas-pasan dan lain sebagainya.

Contohnya lahan milik saya satu hektare ditanami 250 batang pohon lengkeng usia enam tahun. Rata-rata bisa menghasilkan 75 kilogram buah lengkeng per batangnya dalam satu tahun,” paparnya.

Jika dihitung kasar saja 200 batang buah lengkeng dikalikan 75 kilogram, hasilnya sudah 15 ton. Per kilogram petani lengkeng bisa menjual hingga Rp50 ribu. Jika ditotal, satu kali panen bisa meraup omzet hingga Rp750 juta.

Dengan hasil fantastis tersebut, Serda Mugiyanto menampik keras bahwa pekerjaan petani tersebut rendah, kotor, atau penghasilannya tidak seberapa.

Kendati demikian, bertani tanaman seperti buah lengkeng bukan pekerjaan mudah. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum menekuni usaha tersebut.

Menurutnya, setiap petani harus memilih bibit unggul, mengetahui lokasi yang akan ditanami, suhu lingkungan, kontur tanah, teknologi yang akan digunakan hingga perawatan. (Ant/N-1)

BERITA TERKAIT