22 July 2021, 08:50 WIB

Rektor UII: Tolong Pandemi Jangan Dilihat Cuma Sisi Musibah


Agus Utantoro | Humaniora

PANDEMI Covid-19 sudah berlangsung selama satu setengah tahun, alasan kedaruratan telah berkurang validitasnya. Namun, harus disadari pula sampai saat ini masih belum dapat diketahui, kapan pandemi ini akan berakhir.

"Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi masalah multidimensi. Termasuk di dalamnya adalah masalah ekonomi dan pendidikan," kata Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid, Kamis (22/7).

Prof. Fathul membenarkan dalam kondisi ini, derajat tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi berbeda-beda. Masing-masing mempunyai basis terinstal (installed base) yang beragam, termasuk di antaranya, diindikasikan oleh kesiapan infrastuktur teknologi informasi, sumber daya manusia, dan sumber pendanaan.

Lebih lanjut dikatakan, pada masa pandemi covid-19, pemimpin perguruan tinggi diharuskan memahami masalah dan meresponsnya dengan cepat dan diikhtiarkan juga tepat. Kecepatan dan ketepatan respons ini jelasnya, sangat penting untuk menjaga keberlanjutan operasi dan akademik.

Ia menegaskan, perspektif baru perlu digunakan. Pandemi, lanjutnya, sudah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai musibah yang harus dimitigasi, namun juga mengandung berkah tersamar (a blessing in disguise) yang perlu disyukuri.

Sikap yang terkesan subtil ini, menurutnya, sangat penting, bisa menjadi titik balik: dari mengutuk kegelapan ke menyalakan lilin penerang; dari ratapan menuju harapan; dari hujatan menuju lompatan. Pespektif ini juga akan menumbuhkan sikap menerima keadaan secara  objektif dan memikirkan inovasi untuk meresponsnya, termasuk meningkatkan kualitas akademik. Termasuk di dalamnya adalah inisiatif penguatan ekosistem pembelajaran daring dan peningkatan pengalaman pembelajaran mahasiswa.

"Kami di Universitas Islam Indonesia membingkai respons pandemi covid-19 dengan tiga pendekatan yang saling terkait cermat bertahan, sehat berbenah, dan pesat bertumbuh. Bingkai tersebut bisa kita kaitkan dengan keberlanjutan perguruan tinggi, dalam artian yang sangat luas," ungkapnya.

Pola pikir tersebut, ujarnya, jika tidak diletakkan pada perspektif yang luas dan horison yang jauh dapat menjebak individu dalam egoisme, karena cenderung berorientasi ke dalam (inward looking). Padahal, jelasnya, keberlanjutan perguruan tinggi juga harus berorientasi ke luar (outward looking) dan dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan untuk kebermanfaatan yang lebih luas.

"Pesan yang ingin saya bagi adalah bahwa pemahaman terhadap konsep keberlanjutan sangat beragam. Sebagai ikhtiar membuat koridor bersama, saya mengusulkan, perbincangan terkait keberlanjutan perguruan tinggi, minimal mempunyai tiga dimensi yang saling terkait," kata Rektor.

Ia meminta, untuk pengembangan perguruan tinggi ke depan seharusnya tidak hanya berfokus pada kekinian atau horison waktu yang pendek, tetapi juga masa depan yang jauh. Ditegaskan, kata keberlanjutan sendiri mengindikasikan hal itu. Pada dimensi spasial,  perguruan tinggi seharusnya tidak hanya terpaku pada area di dalam pagar kampus, tetapi juga menyentuh khalayak dan kawasan yang lebih luas.

Selain itu, masih ada dimensi kontekstual dengan triple bottom line yang dapat menjadi 3P, yakni planet, people, profit. "Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga terkait dengan manusia, dan juga manfaat. Dalam konteks perguruan tinggi, tiga P ini perlu dikontesktualisasi dengan baik. Kombinasi optimal ketiganya pun perlu diikhtiarkan bersama," tegasnya. (OL-13)

Baca Juga: Ini Penjelasan Pemerintah Soal Perubahan PPKM Darurat Jadi PPKM Level 4

 

BERITA TERKAIT