22 July 2021, 06:00 WIB

Dapur Darurat


Fathurozak | Humaniora

HARI masih pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Namun, kesibukan telah terlihat di sebuah kafe yang terletak di Jalan Diponegoro 23 Salatiga. Sayur-mayur, tempe, dan ayam menjadi pemandangan yang dijumpai tiap harinya sejak awal Juli lalu. Bahan makanan tersebut lalu dimasak hingga selesai sekitar pukul 07.00 untuk kemudian diantarkan ke berbagai tempat.

Setelah jeda sejenak, pada pukul 11.00 dapur kafe tersebut akan kembali sibuk mengolah makanan untuk selanjutnya diantarkan untuk keperluan makan siang. Bukan untuk para pelanggan, melainkan bagi warga yang sedang menjalankan isolasi mandiri di rumah. Kafe di Jalan Diponegoro 23 itu sebetulnya telah lama tutup karena imbas pandemi. Namun, sejak awal Juli dapurnya selalu sibuk hingga pukul 19.00. Lokasi itu kini menjadi markas bagi gerakan inisiatif Dapur Darurat Salatiga, inisiatif anak-anak muda yang mengelola majalah The Moufeet, majalah lokal setempat, untuk menyuplai tiga kali makan setiap harinya bagi warga yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Inisiatif tersebut muncul ketika pemerintah mengumumkan PPKM darurat Jawa-Bali yang berlangsung 3-20 Juli, yang mengharuskan pembatasan operasional toko dan kedai hingga pukul 20.00. Selain itu, semakin banyaknya orang yang melakukan isolasi mandiri turut menjadi pemicu berdirinya gerakan tersebut.

“Kami ketika itu melihat data di humas pemda Salatiga yang menampilkan semakin banyaknya orang yang menjalani isoman (isolasi mandiri). Kami merasa dengan semakin panjangnya masa PPKM, banyak rezeki orang yang terputus, sementara akses makanan susah, tidak banyak orang yang bisa beli makanan terus selama PPKM. Jadi, kami mencoba membuat dapur untuk kebutuhan pangan supaya mereka fokus untuk penyembuhan di rumah masing-masing,” ungkap Virgian Aspara, perwakilan Dapur Darurat Salatiga, saat berbincang melalui konferensi video kepada Media Indonesia, pertengahan Juli lalu.

Virgian dan kawan-kawannya di The Moufeet tidak sendiri. Mereka mengajak komunitas Unit Gigs Darurat, dan menggandeng beberapa kafe di Salatiga untuk mengizinkan para koki mereka memasak di Dapur Darurat. Para pedagang pasar pun turut menyumbang bahan makanan seperti tempe, telur, dan ayam. Saat ini, mereka juga menggandeng sejumlah komunitas motor di Salatiga untuk bertugas mengantarkan makanan ke warga yang tengah menjalani isoman.

Hingga pertengahan Juli lalu, Dapur Darurat itu sudah menyuplai untuk 90 warga terdampak. Setiap harinya, mereka memasak sekitar 321 porsi makanan. Ada sekitar 25 relawan yang terlibat dalam gerakan ini. Menurut Virgian, total donasi yang masuk sebanyak Rp28,7 juta, dengan rerata pengeluaran harian Rp1,6 juta. Dari rincian dana tersebut, gerakan itu ditaksir hanya akan bertahan sampai 10-15 hari mendatang.

“Tentu kami tetap membutuhkan donasi dari teman-teman. Agar bisa bertahan lebih lama, untuk menyuplai pangan ke warga terdampak. Dari segi relawan, kami juga masih membutuhkan, baik yang masak maupun yang antar, supaya tim yang saat ini ada juga bisa punya giliran istirahat.”

Sejauh ini, kata Virgian, donasi datang dari rekan-rekan mereka di Salatiga serta dari masyarakat kota itu yang ada di perantauan. Selain warga yang tengah menjalani isoman, Dapur Darurat menyuplai pangan untuk mereka yang memang terdampak oleh pandemi. Misalnya, mereka yang kehilangan kerja atau masyarakat berpenghasilan rendah. Beberapa panti asuhan juga menjadi salah satu tujuan distribusi pangan Virgian dan kawan-kawan.

“Sistemnya, kalau untuk yang isoman, mereka cukup daftar dengan mencantumkan hasil tes. Bisa mendaftar sendiri atau terkadang ada tetangganya yang mendaftarkan. Biasanya juga ada laporan dari pemilik usaha yang mengatakan dia sudah merumahkan beberapa pekerjanya dan meminta tolong ke kami untuk menyuplai pangan,” terang Virgian.

“Memang masih menunggu ada yang colek kami, siapa yang membutuhkan. Tidak jarang juga selain pangan, kami kirim beberapa perlengkapan seperti popok bayi, untuk mereka yang isoman.”

 

Tidak merata

Kehadiran Dapur Darurat merupakan respons atas tidak meratanya bantuan dari pemerintah. Virgian mengatakan kurangnya akses bantuan untuk warga yang terdampak menimbulkan ketidakjelasan yang patut dipertanyakan, terutama soal data. “Perlu dipertanyakan pendataannya itu seperti apa? Kenapa ada yang terbantu dan ada yang tidak?”

Selain soal bantuan makanan dan sembako, lanjut Virgian, akses layanan tes covid-19 bagi warga tidak mampu juga rendah.

“Jadi, kami anak-anak muda di Salatiga merasa harus kami dulu yang gerak. Kalau bukan kita para warga, siapa lagi yang akan bantuin orang-orang ini? Semoga teman-teman di tempat lain juga terinspirasi dengan gerakan kami dan membuat gerakan yang sama, untuk menggemakan kampanye warga bantu warga,” ujar Virgian. (M-4)

BERITA TERKAIT