21 July 2021, 11:39 WIB

3T Harus Ditingkatkan secara Masif selama PPKM Lanjutan


Faustinus Nua | Humaniora

PEMERINTAH kembali memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama 5 hari ke depan. Kebijakan itu diterapkan untuk menekan penyebaran kasus Covid-19 dan secara pertahana akan melakukan relaksasi atau pelonggaran.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa PPKM yang diperpanjang keharusan sebagai strategi tambahan dan penguat di masa pandemi. Sementara untuk strategi utamanya, yakni testing, tracing, dan treatment (3T) harus ditingkatkan secara masif dalam periode pembatasan yang singkat ini.

"Sekarang dengan adanya keputusan seperti ini tidak ada pilihan lain, PR yang selama ini menumpuk dalam menemukan kasus harus dilakukan secara ekstrem, tingkatan 3T secara ekstrem," ungkapnya kepada Media Indonesia, Rabu (21/7).

Dicky menyampaikan bahwa pemerintah harus punya target yang harus dicapai dalam 5 hari ke depan. Tidak sekadar menurunkan kasus, tetapi harus diimbangi dengan jumlah testing yang tinggi. Misalnya per hari minimal bisa mencapai 1 juta testing, kemudian 80% tracing dan semuanya dikarantina atau isolasi mandiri.

"Nah ini yang harus dilakukan ekstrem benar. Harusnya lebih dari 1 juta testing supaya kita keluar atau terhindar dari beban-beban lanjutan. Jadi kalau ini juga tidak dilakukan kita akan mengalami kondisi yang makin repot gitu," imbuhnya.

Dicky menilai kebijakan PPKM yang kembali dilanjutkan diambil dengan berbagai pertimbangan. Tidak saja semata-mata karena faktor kesehatan tetapi juga maalah sosial dan ekonomi yang justru bisa memperburuk keadaan. Menurutnya, poin penting adalah mengoptimalkan 3T, karena memang sejak awal pandemi 3T merupakan strategi utama.

Dia pun meminta masyarakat terlibat aktif. Terget 3T yang tinggi tidak akan berjalan baik bila tidak didukung masyarakat. (Van/OL-09)

BERITA TERKAIT