20 July 2021, 11:05 WIB

Kemenkes: Baru 1.000 Rumah Sakit yang Aktif Isi Siranap


Humaniora | Humaniora

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengemukakan hingga saat ini baru sekitar 1.000 rumah sakit yang aktif menginformasikan ketersediaan tempat tidur perawatan pasien melalui Sistem Informasi Rawat Inap (Siranap).

"Semua rumah sakit yang sudah teregistrasi di Kemenkes, sebenarnya sudah memiliki akses dalam mengisikan data di Siranap, tapi yang mulai mengisi baru sekitar 1.000 rumah sakit," kata dia, Selasa (20/7).

Menurut Siti Nadia, Kementerian Kesehatan telah menyediakan aplikasi Siranap yang bisa diunggah melalui ponsel pintar untuk membantu masyarakat dalam mencari tempat tidur yang tersedia di rumah sakit rujukan covid-19.

Baca juga: Luhut Minta Penyaluran Obat dan Bansos Tepat Sasaran

Baca juga: Jokowi Minta Kepala Daerah Percepat Realisasi Bansos

Hingga saat ini Kemenkes terus meningkatkan keaktifan pengelola rumah sakit untuk melaporkan ketersediaan tempat tidur pelayanan pasien melalui aplikasi Siranap. Sebab, berdasarkan laporan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) jumlah rumah sakit di Tanah Air hingga April 2021 ada 3.039 RS.

Siti Nadia mengakui bahwa layanan Siranap yang berbasis data real time belum berfungsi optimal akibat pembaruan informasi yang dilakukan pengelola rumah sakit kerap berjalan lambat.

Dampaknya, kata Siti Nadia, informasi kepada masyarakat yang membutuhkan sering tidak sesuai dengan fakta keterisian rumah sakit yang mereka tuju. "Keakuratan data di Siranap tergantung dari keaktifan rumah sakit meng-update data dalam sistemnya," katanya.

Cara pengisian Siranap ada dua cara, yakni pengisian lewat aplikasi langsung dan pengisian melalui briging atau alat yang bisa menghubungkan suatu jaringan komputer, yakni Local Area Network (LAN) dari sistem informasi yang ada di rumah sakit.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 itu mengatakan yang sering terjadi belakangan ini adalah ketika ruang perawatan kosong, tetapi masih ada pasien di IGD yang mengantre untuk dipindahkan ke ruang perawatan tersebut. Situasi itu kerap memicu ketidakakuratan data yang tercantum dalam laman aplikasi Siranap.

"Oleh karena itu, dalam Siranap sudah ditambahkan informasi IGD dan antreannya. Ada juga beberapa rumah sakit yang memisahkan ruang untuk pasien laki-laki dan perempuan," katanya.

Siti Nadia mengatakan Kemenkes mengharapkan agar pengisian melalui briging oleh pengelola rumah sakit perlu ditingkatkan.

"Karena ketika ada perubahan dalam penerimaan rawat inap pada Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), data itu juga akan otomatis terkirim ke Kementerian Kesehatan," katanya. (H-3)

BERITA TERKAIT