09 July 2021, 06:15 WIB

Sukses Bersama Omah Difabel


Bagus Suryo | Humaniora

HARI beranjak sore, sejumlah difabel beraktivitas menata baju hazmat, masker, keset, tas, kopi, dan produk lainnya. Semua produk itu tertata rapi di rak tepat di depan pintu masuk kamar tamu.

“Semua produk ini buatan para difabel,” tegas Ketua Badan Pembina Lingkar Sosial (Linksos) Kertaningyas membuka pembicaraan, Selasa
(15/6).

Kertaning Tyas akrab disapa Ken Kerta menceritakan membina difabel itu penuh tantangan. Saat awal pendirian Linksos pada 2014, ada saja difabel yang ingin mencari bantuan sosial. Mengubah pola pikir itu membutuhkan proses mulai pendekatan, penguatan, membekali keterampilan sampai mereka bekerja mandiri.

“Tantangan membina difabel itu stigma dari lingkungan dan diri mereka sendiri. Selain itu, kekurangan sumber daya,” katanya.

Imbasnya, ada yang keluar, tetapi sebagian memilih bertahan. Difabel yang masih aktif dari ragam disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik.

“Kami membuat kebijakan tidak membiasakan nyangoni (memberi bantuan uang) saat berkegiatan,” imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, jumlah difabel yang bergabung di Linksos kian bertambah, mencapai 327 orang dari semula hanya 15 orang. Masyarakat dampingan itu warga Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Ada juga difabel dari Kabupaten Pasuruan dan Sidoarjo.

Mereka berkarya di Omah Difabel, Dusun Setran, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kegiatan rutin kepelatihan berbagai keterampilan hidup lalu bekerja dan menjalankan usaha bersama.

“Awalnya usaha menjahit, selanjutnya berkembang usaha kopi racikan jahe dalam kemasan, hazmat, masker, tas, telor asin, keset, dan produk lain,” ungkapnya.


Sistem kelompok

Ken Kerta membuat sistem kelompok berbekal keterampilan dan keahlian setiap difabel. Tujuannya agar mereka bisa saling melengkapi. Kelompok difabel bidang menjahit, misalnya, dibagi dalam kelompok yang sudah mahir banyak garapan, mahir sepi garapan dan baru belajar. Teknis pembagian kerja seperti itu menciptakan job sharing.

“Yang banyak garapan bisa memberikan sebagian order ke temannya. Yang baru belajar membantu yang sudah senior dan lainnya membantu pemasaran,” tuturnya.

Setelah terbentuk kelompokkelompok difabel, ia membentuk kelompok kerja yang kini berkembang menjadi Omah Difabel terlahir pada
masa pandemi covid-19. Bagi Ken Kerta dan para difabel lainnya, masa pandemi bukan halangan untuk berkarya dan bekerja. Nyatanya, pandemi covid-19 tak membuat semangat mereka goyah.

Rezeki memang tak disangka, para difabel mendapatkan peluang pesanan masker dari Rumah Sakit Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Kabupaten Malang. Difabel yang aktif di Linksos tentu tidak kesulitan memenuhi permintaan masker lantaran organisasi dengan struktur yang rapi membuat mereka kuat.

“RS Jiwa Lawang memberikan pinjaman modal awal Rp1 juta. Pesanan masker digarap bersama oleh penjahit difabel dan nondifabel,”
ucapnya.

Setelah itu, ada dukungan dari Universitas Negeri Malang dalam program holistik pemberdayaan masyarakat desa. Universitas Kanjuruan Malang dan Universitas Brawijaya Malang membina berbagai keterampilan. Berhasil mandiri

Sekarang semakin banyak difabel yang mandiri. Mereka menghasilkan produk-produk, seperti keset, tas, dompet, baju seragam karyawan
pabrik, kopi jahe kemasan, hazmat, dan masker. Tas dan dompet dari kain perca dijual Rp60 ribu per buah.

“Linksos sebatas mendampingi dan hibah melalui kepelatihan. Stimulusnya dalam bentuk barang atau bahan produk dan berlatih sampai bisa,” kata Kerta. 

“Produk keset bila bahannya dari Omah Difabel dibeli Rp5 ribu per buah. Kalau bahan keset dari para difabel sendiri dibeli 10 ribu, harga jualnya Rp15 ribu,” sambungnya.

Selain keset, para difabel memproduksi kopi jahe dalam kemasan dijual Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Baju hazmat Rp100 ribu dari harga awal pandemi bisa Rp130 ribu per buah. “Yang menjual berbagai produk difabel sendiri,” tuturnya. Semangat saling berbagi pekerjaan membuat mereka bertambah kuat, mandiri dan berdaya secara ekonomi.


Kisah sukses

Ezra Juniawan, Koordinator Sekolah Alam Omah Difabel, warga Bedali Indah, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, sejak Agustus 2019 bergabung di lingkar sosial. Ia berlatih membuat keset semula memproduksi 2 keset, kini bisa 8 keset per hari. Keset buatannya dijual Rp15 ribu per buah.

Pak Yudha, tim pemasaran Omah Difabel. Ia sempat kehilangan pekerjaan lantaran menderita kusta. Setelah sembuh, ia memproduksi
keset sembari membantu sang istri berjualan di pasar Lawang, Kabupaten Malang. Ia pemasok aktif keset di Omah Difabel. Produksi
keset buatannya rata-rata 5-10 buah per hari.

Priyo Utomo, difabel fisik usaha telur asin di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Ia memiliki dua mitra difabel intelektual. Semula memproduksi 200-400 telur asin per bulan, lalu berkembang 1.800 telur asin per bulan.

Ibu Theresia Ina, tim konveksi Omah Difabel, memiliki lima mitra difabel tuli dan disabilitas fisik. Ia membantu memberikan pekerjaan konveksi kepada difabel lainnya. Bila Omah difabel mendapatkan order menjahit gaun pengantin, jas, terpal, korset dan sepatu, pekerjaan itu diberikan ke para difabel atau pihak lain yang mampu mengerjakan. (N-1)

BERITA TERKAIT