07 July 2021, 19:46 WIB

Banyak Tenaga Pendidik Tak Siap Mengajar Secara Virtual


mediaindonesia.com | Humaniora

KEGIATAN belajar mengajar berbasis daring meningkat selama satu tahun belakangan ini. Padahal sejak tahun 2018, banyak sekali inisiatif yang telah didiskusikan oleh pimpinan universitas untuk mengakselerasi penggunaan teknologi bagi kalangan pendidik, baik untuk mata kuliah maupun program studi dan cukup sulit untuk bisa direalisasikan.

Namun setelah adanya pandemi Covid-19, terjadi percepatan adopsi teknologi untuk proses belajar jarak jauh yang terjadi secara massif.

Pernyataan tersebut disampaikan  dosen dan peneliti Program Studi Ilmu Komunikasi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Universitas Pelita Harapan Stella Stefany saat menjadi narasumber pada kegiatan virtual media briefing yang diselenggarakan oleh perusahaan teknologi integritas akademk Turnitin.

Menurut Stella, pada akhir Maret 2020 pihak Universitas Pelita Harapan  sudah melakukan home base learning dan proses transmisinya sangan cepat karena krisis pandemi Covid-19 sangat berbahaya jika tetap belajar secara luring atau offline.

“Tantangan yang paling besar yang kami hadapi adalah ketidaksiapan tenaga pendidik dalam beradaptasi di kelas virtual. Bukan karena pengajar yang tidak kompeten, tapi karena murni kurang persiapan bagi para pendidik dalam mengadopsi teknologi,” ujar Stella pada keterangan pers, Rabu (7/7).

“Dengan kurangnya persiapan dan pelatihan, dampaknya mahasiswa banyak diberikan tugas yang banyak sekali sebagai kompensasi belajar,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi saat itu, tambahnya, kelasnya dipindah secara sinkronus. Jika sebelumnya kelas tatap muka tadinya 4 SKS dan masing-masing SKS adalah  50 menit, sekarang dipindah secara daring sehingga selama 4x50 menit  mahasiswa diminta duduk depan laptop mendengar dosennya bicara.

“Dan ini menjadi tantangan sendiri karena kita tidak tahu kondisi belajar masing-masing di rumah seperti apa. Pada akhirnya yang muncul adalah tekanan psikologis baik dari mahasiswanya maupun dosennya,” jelasnya

“Mahasiswa stres karena harus menghadapi situasi keluarganya yang mungkin juga lagi ada tekanan besar. Ditambah ada tipe dosen yang karena online hanya memberi tugas-tugas saja,” ujar Stella.

Setelah berlangsung selama 15 bulan, fenomena seperti ini mulai bisa diatasi. Tantangan saat ini adalah bagaimana meningkatkan keterlibatan mahasiswa (student engagement) agar mereka termotivasi untuk mempunyai pemikiran kritis yang lebih tinggi.

Head of Business Partnerships Turnitin untuk kawasan Asia Tenggara, Jack Brazel, menambahkan tantangan lain di saat pandemi ini adalah melakukan penilaian jarak jauh (remote assessment) terhadap hasil kerja mahasiswa.

Turnitin sebagai salah satu perusahaan teknologi bisa mendukung dari segi efisiensi waktu dalam melakukan proses penilaian.

“Kami mengakuisisi Gradescope untuk membantu para tenaga pengajar melakukan penilaian jarak jauh dengan waktu yang lebih efisien,” tuturnya.

Selain mengurangi waktu dalam memberikan penilaian, Gradescope juga membantu menjawab pertanyaan mahasiswa ketika mereka menanyakan tentang indikator apa yang digunakan untuk memberikan nilai pada pekerjaannya.

“Gradescope juga bisa terintegrasi dengan Learning Management Sysmen yang sudah ada,” ujarnya.

Baru-baru ini Gradescope mendapatkan penghargaan dari EdTech Breakthrough, organisasi intelijen pasar kelas dunia, sebagai "Solusi STEM Terbaik untuk HigherEd" dalam penghargaan tahun 2021 ini.

Melalui platform ini, pendidik dapat dengan mudah membuat, mengelola, mengatur, dan menilai tugas berbasis kertas, digital, dan kode secara langsung dan virtual.

Gradescope mendukung alur kerja penilaian yang disederhanakan, yang membantu menskalakan penilaian berkualitas tinggi,  evaluasi yang konsisten dan adil melalui penilaian yang dibantu AI, autograder kode, serta tindakan lanjutan yang didasarkan pada wawasan dari kinerja siswa dan tren kursus itu sendiri. (RO/OL-09)

 

BERITA TERKAIT