02 July 2021, 22:05 WIB

Dokter Tirta Anggap PPKM Darurat Harus Dibarengi 3 T yang Baik


Ferdian Ananda Majni |

PEMBERLAKUAN pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat diyakini tidak akan efektif bila tidak diberangi dengan pelaksanaan 3T (testing, tracing, treatment) yang baik.

"Mestinya bisa memisahkan orang yang pernah terinfeksi, belum terinfeksi tapi sudah vaksin, belum terinfeksi belum vaksin tapi tidak berisiko, dan orang yang belum terinfeksi belum vaksin dan berisiko," kata influencer kesehatan dr Tirta Mandira Hudhi saat berdiskusi dalam program Journalist on Duty bertema Menakar PPKM Darurat Jawa Bali melalui akun Instagram @mediaindonesia, Jumat (2/7).

Satu-satunya cara memiliki data tersebut, kata Tirta, hanyalah dengan tracing yang bagus. "Bagi yang bergejala dilakukan PCR, swab antigen untuk 30 orang sekitarnya yang kontak, dan antibodi serologi untuk cek sampel dari populasi dari daerah untuk mengetahui tingkat antibodi warga," kata Tirta.

Baca juga: Bali Tolak PPKM Darurat, Pakar Virus Minta Lockdown

Selama belum memiliki data tersebut, lanjut Tirta, kita tidak bisa mengetahui yang terpapar covid-19 berapa banyak. Selain itu, tingkat positivity rate covid-19 di Indonesia akan tinggi.

Kalau yang dicek hanyalah orang yang bergejala, imbuh Tirta, sudah pasti positif. "Mestinya yang dicek adalah yang bergejala dan 30 orang yang kontak. Selama tidak menjalani itu, ya positivity rate pasti di atas 5%" kataTirta.

Baca juga: PPKM Darurat, Kartu Vaksin dan PCR Diusulkan Jadi Syarat Perjalanan

Dia mengakui, PPKM darurat lebih ketat ketimbang sebelumnya. Hanya saja, menurut dia, pemerintah seharusnya juga menutup akses mobilitas warga dari luar negeri.

"Karena strain mutasi terjadi karena ada kontak strain dari luar negeri. Dan ini menyebabkan strain berkumpul di Indonesia. Mestinya akses dari luar negeri juga ditutup selama dua minggu untuk mencegah kebocoran mutasi lainnya," sambung Tirta.

Baca juga: Usai Hajatan Satu RT di Medan Satria Kota Bekasi Lockdown Lokal

Tirta memprediksi, angka covid-19 di Indonesia akan turun setelah pelaksanaan PPKM darurat. Hanya saja, dia mengkhawatirkan, sebulan kemudian akan naik kembali karena kemasukan mutasi virus lainnya. "Siklus kita kayak puncak lembah, puncak lembah," ucap Tirta.

Apalagi, sambung Tirta, karena keterbatasan tenaga vaksinator, kondisi herd immunity di Indonesia baru akan tercapai sekitar Oktober. "Apa kuat kita menahan? Di Januari 2020 baru ada varian alfa dan beta. Di Juni, kita hancur karena varian delta. Saat ini ada lagi varian lambda. Kita bisa bikin hancur lagi di November," kata Tirta.

Tirta berharap selama pelaksanaan PPKM darurat, pemerintah bisa gencar melaksanaka 3 T dan vaksinasi. Di sisi warga, kooperatif dan disiplin menjalani protokol kesehatan serta mengingatkan warga lain. Dan di sisi tenaga kesehatan bisa menangani pasien covid-19, edukasi, serta menjadi vaksinator. (X-15)

BERITA TERKAIT