24 June 2021, 06:25 WIB

Tempat Singgah untuk Tenaga Medis


Fathurozak | Humaniora

SAAT pandemi pertama kali merebak pada Maret tahun lalu, layanan-layanan kesehatan kewalahan. Saat itu, minimnya alat perlengkapan medis (APD) berdampak pada kondisi tenaga kesehatan (nakes) hingga beberapa di antara mereka harus kehilangan nyawa. Minimnya pemahaman masyarakat tentang virus kala itu memunculkan stigma negatif terhadap tenaga kesehatan. Tak jarang warga di sekitar tempat tinggal para nakes mengucilkan mereka lantaran dianggap bisa menularkan covid-19. Tak sedikit pula yang diusir dari kontrakan atau tempat kos.

Di sisi lain, para nakes ini harus berjibaku menghadapi membeludaknya pasien covid-19 di rumah sakit. Beban kerja pun berlebih. Situasi-situasi tersebut melahirkan kondisi yang tidak ideal bagi para tenaga medis, termasuk untuk beristirahat. Mereka bahkan harus tidur seadanya di ruangan yang tersedia di rumah sakit.

Melihat situasi tersebut, organisasi sosial Habitat for Humanity Indonesia pun menggalang kampanye tempat singgah sementara bagi para tenaga medis. Mereka mengajak publik dan berbagai instansi untuk turut mendanai tempat singgah sementara bagi para nakes tersebut.

“Saat itu kami banyak berdiskusi dengan pihak rumah sakit, kebutuhan mereka itu apa sih? Selain APD, itu berhubungan dengan tempat tidur. Ini berkaca dari stigma negatif yang diterima dan sif kerja yang bahkan mengharuskan mereka menginap di RS,” tutur Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia, melalui konferensi video, Selasa (22/6).

Program itu pun kemudian bekerja sama dengan rumah sakit rujukan covid-19 di Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Inisiatif yang digalang dan berjalan sejak April 2020-Februari 2021 itu mampu mengumpulkan dana sekitar Rp13 miliar untuk menyediakan tempat singgah sementara bagi 1.900-an tenaga medis. Hotel-hotel yang berada di sekitar rumah sakit pun menjadi tempat singgah bagi para nakes.

Menurut Susanto, mereka yang mendapat akses bantuan tempat singgah sementara bukan cuma perawat, melainkan juga para pekerja pendukung seperti petugas ambulans dan petugas penatu rumah sakit yang semuanya bersinggungan dengan pasien covid-19.

“Kami bekerja sama juga dengan hotel dan mendapatkan harga spesial. Kami sediakan transportasi dari rumah sakit ke hotel, dan juga makan. Hal ini agar nakes bisa fokus bekerja, tidak memikirkan lain-lainnya lagi. Ini juga secara tidak langsung turut membantu industri perhotelan yang terpuruk,” kata Susanto.

Melihat pandemi covid-19 yang saat ini kasusnya kembali meningkat, Susanto dan organisasinya sangat mungkin akan kembali menggalang kampanye tempat singgah untuk tenaga medis. Sejauh ini, dia sudah mendapat telepon dari beberapa rumah sakit, yang bertanya apakah memungkinkan organisasinya itu dapat membantu tempat singgah sementara. “Kabarnya bantuan tempat singgah yang disediakan pemerintah selesai 15 Juli. Setelah itu mereka akan mengalami masalah lagi.”

“Kenapa Februari kemarin kami hentikan kampanye ini karena merasa sudah cukup, kebutuhan juga sudah menurun, dan pemerintah juga sudah menyediakan fasilitas melalui departemen terkait. Artinya apa yang kami lakukan juga ikut memicu menyadarkan banyak pihak. Tapi melihat situasi sekarang, mungkin kami akan kembali melakukan kampanye untuk tempat singgah bagi nakes,” imbuhnya.

Nantinya, Susanto dan timnya akan melihat daerah mana yang paling membutuhkan bantuan tempat singgah bagi tenaga kesehatan. Saat ini, Jabodetabek, Jabar, Jateng, dan Jatim menjadi beberapa daerah yang turut menjadi tujuan, mengingat jumlah kasus yang tinggi.

“Tujuan kami dengan hotel atau tempat singgah sementara adalah supaya para nakes ini bisa merasa terbantu, bisa tidur di tempat yang nyaman. Yang tadinya tidur di meja-meja keras, tidak bisa pulang, bisa istirahat dengan nyaman dan bisa bangun dengan fit dan bekerja melayani pasien dengan badan yang sehat.”

 

 

Dukung ibu-ibu

Selain memberi dukungan bagi para tenaga medis, Habitat Humanity juga menginisiasi program pelatihan bagi para ibu pelaku wirausaha kuliner yang terdampak pandemi. Mereka menyasar para pelaku usaha kuliner skala mikro untuk diperkenalkan tentang kiat bertahan di masa pandemi yang semuanya mengharuskan serbadaring.

Sektor ekonomi yang sangat terdampak sangat dirasakan oleh para individu yang berpenghasilan rendah. Susanto juga melihat pandemi memberi beban ganda bagi mereka. Sumber pendapatan yang semakin mengecil, juga kebutuhan seperti kuota bagi mereka yang masih memiliki anak usia sekolah, menjadi tantangan tersendiri.

“Salah satu permasalahannya, misalnya banyak warteg di Jakarta yang sudah berusaha untuk eksis, tetapi tidak bisa karena pandemi ini banyak terjadi pembatasan. Sedangkan mereka tidak bisa merambah dengan cara usaha online, padahal di saat pandemi semua mengandalkan platform daring,” pungkas Susanto.

Organisasi ini kemudian bekerja sama dengan para platform bisnis berbasis daring mengadakan tiga tahap pelatihan bagi para ibu di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta untuk mengenalkan mereka cara berdagang secara daring. Selain pelatihan, para ibu juga diberi modal usaha Rp200 ribu dan kuota internet Rp150 ribu.

“Mereka yang ikut ialah pengusaha yang masih berjuang dan terdampak pandemi, serta usahanya masih dalam skala mikro. Selain itu, yang masih belum melek platform daring, masih berjualan secara konvensional,” kata Susanto.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, Habitat Humanity melihat pandemi memang memunculkan kebutuhan yang lebih tinggi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sebab itu, fokus untuk turut membantu mereka yang terdampak secara ekonomi juga menjadi salah satu inisiatif yang dilakukan.

“Ketika ada sesama saudara yang terdampak bencana, ya Indonesia sebagai negara yang gotong royong harus membantu. Kita hidup harus selalu bertenggang rasa dan bergotong royong,” kata Susanto. (M-4)

_____________________________________________________________________________________

BIODATA

Susanto Samsudin

Jabatan: National Director Habitat for Humanity Indonesia

 

BERITA TERKAIT