22 June 2021, 16:25 WIB

MUI Ingatkan Pentingnya Mempertahankan Iman dalam Menghadapi Covid-19


Zubaedah Hanum | Humaniora

GELOMBANG kedua pandemi covid-19 mulai menerjang Indonesia. Kasus positif terus bertambah, ranjang rumah sakit penuh, dan korban meninggal dunia terus berjatuhan. Apa yang seharusnya dilakukan umat Islam dalam situasi mencekam ini?

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdullah Djaidi menyerukan pada umat muslim Indonesia untuk mempersiapkan keimanan, di samping ibadah dan ketahanan fisik menghadapi pandemi Covid-19.

"Sikap orang yang beriman, umat Islam sudah seyogianya selalu tegar dan tetap bersandar kepada Allah SWT, terutama terhadap qadha dan qadar-Nya. Mau tidak mau atau siap atau tidak, setiap dari kita pasti akan mengakhiri hidup dengan caranya masing-masing. Semua itu merupakan sebab, menuju kematian, untuk mengakhiri kehidupan," ujarnya dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Pandemi Covid-19 Berbasis Fatwa MUI seperti dilansir dari laman MUI.

Menurutnya, kematian adalah keniscayaan yang bisa terjadi dalam berbagai macam cara. Ada yang mengakhiri dengan sakit berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ada yang meninggal sakit ganas dan ada juga saudara kita yang meninggal akibat covid-19.

"Semua Ini adalah jalan sebagaimana pepatah, ‘Banyak sebab cara menuju kematian, tapi kematian itu adalah satu, mengakhiri hidup kita,” ujar Kiai Abdullah

Dia mengingatkan para ulama untuk selalu berperan untuk mengingatkan, membimbing dan menyelamatkan umat dalam hal-hal yang merugikan dalam agama Islam, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang masih menghantui.

"Yang paling terpenting saat ini adalah bagaimana umat untuk selalu mempersiapkan kematian dengan perbanyak amal saleh dan amal ibadah serta tetap mempertahankan iman," serunya.

Menurut dia, MUI sebagai himayatul ummah mempunyai peran untuk melayani bimbingan umat, petunjuk, memberi soluasi dan membangun kebersamaan. Diharapkan senatiasa bisa menyelamatkan umat, bukan hanya Covid-19, melainkan masalah lainya seperti aliran sesat atau menyimpang, melindungi muamalah yang dihadapi yang tidak syari, melindungi umat dari informasi yang tidak benar dan lain sebagainya.

Kiai Abdullah juga mengingatkan umat untuk muhasabah, karena virus ini merupakan makhluk Allah, yang bisa menghindarkan kita dan mematikan virus ini hanya Allah. Bisa jadi, adanya wabah ini merupakan teguran atau adzab dari Allah karena banyak ayat yang menjelaskan bagaimana tingkah laku manusia melakukan kecacatan di muka bumi. Artinya, ini peringatan dan teguran dari Allah SWT.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, KH Munahar Muchtar HS, menegaskan pentingnya mendekatkan diri pada Allah lebih utama agar masalah Covid-19 cepat usai.

Dia mengatakan hampir dua tahun sudah kita “dipermainkan” masalah Covid-19, bahkan sampai dengan masalah peribadatan juga seolah-olah diatur Covid-19 sehingga hal ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat.

“Kita perlu menanamkan pada umat, terlalu takut juga tidak boleh, karena ada yang masih di atas itu semua, yaitu Allah,” ucapnya.

Muchtar bercerita bahwa dulu Imam Al-Ghazali pernah mengatakan jika takut anjing jangan dekati anjing, dekati saja yang punya anjing. Begitupula dengan Covid-19,  karena Covid-19 adalah mahluk Allah, kita harus mendekatkan diri kepada Allah,  bagaimana caranya agar Covid-19  hilang.

“Ini adalah ketentuan Allah yang harus kita terima dengan ikhlas dan ikhtiar maksimal,” ucap dia.

Dia menjelaskan selama masa pandemi ini MUI telah mengeluarkan fatwa kurang lebih 14 kali, yang  baru kali ini dialami MUI termasuk dua fatwa berkaitan dengan vaksin. Dengan acara ini, harapannya segala fatwa yang ada agar bisa disampaikan tidak hanya pada masyarakat kalangan atas saja, tapi juga disampaikan pada masyarakat yang paling bawah.

“Sampaikan masyarakat paling bawah agar tidak terlalu takut dengan Covid-19 ini, tapi mengarahkan mereka untuk lebih takut dengan Allah,” kata dia. (H-2)

BERITA TERKAIT