20 June 2021, 16:30 WIB

Fasyankes Kolaps, Epidemiolog: Tunda PTM


Faustinus Nua |

Tingginya lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia telah menyebabkan kolaps-nya pelayanan di fasiltas layanan kesehatan (fasyankes). Beberapa RS dan puskesmas melaporkan peningkatan pasien yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, bahkan BOR di sejumlah RS telah melampaui batas aman.

Epidemilog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai bahwa situasi saat ini mengkhawatirkan. Lantas dia meminta pemerintah untuk kembali menerapkan PSBB di beberapa daerah dan menunda pelaksanaan PTM yang direncakan dimulai pada awal tahun ajaran baru di Juli nanti.

"PTM ini harus dievaluasi per kondisi daerah. Dan saat ini mau tidak mau ya harus kita tunda dulu," ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (20/6).

Baca juga: Persi Dorong Distributor Oksigen Penuhi Kebutuhan RS di Jawa Tengah

Dia mengatakan bahwa dirinya pada posisi mendukung PTM. Pasalnya pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setahun telah berdampak buruk pada sektor pendidikan.

Namun, melihat situasi beberapa hari terakhir, penyebaran virus yang melonjak tajam dan daya tampung fasyankes kewalahan, maka pelaksanaan PTM tidak bisa dipaksakan. Risiko saat ini sangat tinggi bukan hanya untuk PTM tapi juga aktivitas lainnya.

"Artinya ketika PTM ini dipilih untuk ditunda semua aktivitas lain juga harus berhenti, jadi ke arah PSBB. Ini yang harus dilihat dan yang benar untuk dilakukan setiap daerah terutama di Jawa karena risikonya terlalu tinggi," jelas Dicky.

Lebih lanjut, dia meminta keseriusan pemerintah. Menjelang jadwal pelaksanaan PTM, cakupan vaksinasi guru masih jauh dari target. Padahal saat ini sudah memasuki akhir bulan Juni.

Sementara itu, munculnya varian baru juga jadi alasan tersendiri PTM harus ditunda. Lantaran, varian delta masih belum terkendali dan pengetahuan atau penelitian tentang varian itu belum banyak dilakukan.

"Situasi faskes yang kolaps dan cenderung makin buruk, situasi penyebaran varian delta ini yang belum terkendali ya.g akan membuat program PTM berisko tinggi dan ini berbahaya," tandasnya. (H-3_

BERITA TERKAIT