17 June 2021, 18:36 WIB

Kemendikbud: PTM Tetap Bisa Dilaksnakan Sesuai Kondisi Wilayah


Atalya Puspa | Humaniora

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri mengungkapkan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dapat dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan dapat dilakukan dinamis sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

"PTM terbatas tetap dilakukan dengan mempertimbangkan protokol kesehatan," kata Jumeri dalam webinar Peran UKS Sebagai Satgas Covid-19 di Level Sekolah dalam Melakukan Pengawasan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Kamis (17/6).

Ia juga menyatakan, semua stakeholder, mulai dari pemerintah pusat, daerah, dan kanwil Kemenag, harus bersama-sama memantau penerapan protokol kesehatan di sekolah selama PTM berlangsung.

Baca juga: BPPT: Pergerakan Ekonomi Indonesia Belum Berbasis Inovasi

Selain itu, dalam penerapannya, Jumeri menyatakan bahwa peran tim UKS di sekolah dapat menjadi tonggak penting dalam memantau penerapan protokol kesehatan guna mencegah munculnya klaster baru.

"Tim pelaksanna UKS sekolah harus bekerjasama hingga tingkat kecamatan. Hal ini karena perlu kerjasama dengan Puskesmas untuk pemantauan sekolah setiap hari dan membantu peningaktan kapasitas dengan melakukan sosialisasi protokol kesehatan di sekolah," bebernya.

Ia optimistis, sekolah bisa menjalankan blended learning, yakni PTM terbatas dan PJJ seiring berjalannya waktu.

"Sekolah bukannya tidak bisa, tapi belum. Kebanyakan daerah sedang uji coba PTM terbatas untuk memastikan PTM aman. Sampai saat ini kami masih optimis PTM akan berjalan lancar," pungkas Jumeri.

Baca juga: Seberapa Bahaya Penyebaran Varian Delta, Ini Penjelasan Satgas Covid-19

Dihubungi terpisah, pengamat pendidikan Ina Liem mengungkapkan, sebenarnya PTM bukanlah satu-satunya jalan untuk mencegah terjadinya learning loss. Ia bahkan menyatakan bahwa konten yang diajarkan di sekolah selama ini bukanlah satu-satunya jalan untuk membentuk pola pikir dan kepribadian anak. Salah satu yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya learning loss adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang dapat dilakukan di rumah.

"Keluarga sangat penting, bisa membiasakan ada waktu membaca bersama atau mendengarkan berita, kemudian dibahas bersama," kata Ina.

Ia menyatakan, pendidikan karakter merupakan faktor utama dalam pendidikan dasar dan menengah. Contoh lainnya, anak-anak juga bisa diberikan tanggung jawab untuk pekerjaan rumah. "Melatih kreativitas juga bisa dilakukan di rumah, anak diajarkan untuk peka terhadap masalah-masalah di sekitarnya. Kemudian diajak mencari solusi untuk memecahkannya," pungkas Ina.

Terpisah, Co-Founder dan Chairman PesonaEdu Hary Candra menyatakan, PJJ tidak selalu erat kaitannya dengan learning loss. Ia menekankan pentingnya menyajikan bahan ajar yang interaktif kepada siswa.

"Salah satu yang bisa mengurangi learning loss yang signifikan adalah pelibatan teknologi digital yang inovatif, tepatnya bahan ajar yang bukan hanya teks dan gambar mati. Bukan pula hanya animasi tapi interaktif," tegasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT