10 June 2021, 15:30 WIB

Baterai Alga Merah Antar ITB Berkompetisi di Ajang Internasional


Zubaedah Hanum | Humaniora

PROTOTYPE baterai organik dari alga merah buatan mahasiswa ITB Yumna Dzakiyyah (Teknik Elektro 2019) dan Richie Fane (Teknik Industri 2019)  akan mewakili Asia Pasifik dalam ajang Schneider Go Green 2021 tingkat dunia.

Dalam ajang ini, kedua mahasiswa yang tergabung dalam Tim Carragenergy itu melawan tim dari Australia, Singapura, dan Korea Selatan. Setelah melewati proses penjurian yang sengit, keduanya kembali meraih posisi pertama yang akan bersaing kembali di tingkat dunia.

Pemilihan alga merah sebagai bahan penyusun baterai organik ini didasari pada hasil riset Yumna dan Richie bersama tim dari sebuah start-up yang bergerak di bidang SME (Small Medium Enterprise) terhadap petani rumput laut di Pulau Tidung.

Keduanya menemukan bahwa pemanfaatan rumput laut di Indonesia masih kurang optimal, terutama karena petani hanya menjual dalam bentuk rumput laut kering yang tentunya bernilai jual rendah. Hal ini menimbulkan keinginan Yumna dan Richie untuk dapat meningkatkan value rumput laut Indonesia yang berlimpah, sehingga dipilih bahan ini sebagai penyusun baterai organik.

“Ketika kita menemukan rumput laut mempunyai potensial yang lebih, kita berangkat dengan ide ini,” ungkap Yumna seperti dikutip dari laman ITB.

Ramah lingkungan
Prototipe baterai organik yang diciptakan Yumna dan Richie tersusun dari komponen elektroda dari bahan organik dan komponen elektrolit dari ekstrak rumput laut bernama karagenan.

Baterai yang dibuat ini termasuk kategori baterai sekunder yang bersifat rechargeable. Prototipe ini dibuat pada temperatur lingkungan dan telah dilakukan uji terhadap komponen elektrolit.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, performa baterai organik dengan gabungan elektroda organik dan biopolimer elektrolit menghasilkan perfoma yang komparabel dengan baterai Li-ion. Tentunya baterai ini memiliki keunggulan dari sisi lingkungan.

Dimulai dari proses pembuatan baterai hingga pengolahan limbahnya, baterai anorganik memberi dampak yang membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan. Keunggulan inilah yang dapat memberi nilai lebih pada prototipe baterai organik buatan Yumna dan Richie.

“Dengan mengetahui tentang baterai ini, secara tidak langsung masyarakat akan lebih aware akan masalah lingkungan,” ujar Richie.

Dosen Elektronika ITB Mervin Tangguar Hutabarat adalah sosok yang mempertemukan Yumna dan Richie dengan Paula Santi Rudati,  ahli di bidang organik semiconductor. Kedua dosen ini pun menjadi mentor bagi keduanya.

Yumna dan Richie berharap prototipe baterai organik ini dapat memberi dampak bagi kehidupan dan tidak hanya berhenti setelah perlombaan usai.

“Dengan adanya lomba dan proyek seperti ini diharapkan dapat memberi pengaruh bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, melihat suatu produk dari seluruh rantai nilainya, dan pada akhirnya berkontribusi dalam mewujudkan dunia lebih green dan sustainable,” pungkas Richie. (H-2)

BERITA TERKAIT