10 June 2021, 00:09 WIB

Atasi Dampak Pandemi dan Bencana, Kolaborasi Penrtahelix Diperkuat


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PANDEMI Covid-19 masih terus melanda dunia dan Indonesia. Di sisi lain, bencana alam juga menimpa sejumlah wilayah di Indonesia. Diperlukan kolaborasi semua pihak untuk menanggulangi dampak yang terjadi akibat bencana ganda tersebut.

“Dalam masa pandemi kita sudah menghadapi banyak bencana ganda pandemi dan bencana alam. Gunung Merapi, Semeru, gempa Sulbar, Banjir Kalsel dan banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia mengakselerasi penyebaran covid-19 di banyak daerah. Tak ada jalan lain, stok masker medis secara masif perlu disiapkan Pemerintah dan semua pihak bukan saat bencana. Cadangan besar justru harus kita siapkan sebelum bencana terjadi,” jelas aktivis kemanusiaan Faisal Saimima di Jakarta, Rabu (9/6)

Pria yang juga aktif di Satkornas dan Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor itu menjelaskan, seringkali kalangan aktivis menemui kenyataan kurangnya stok masker medis berkualitas dalam jumlah besar saat terjadinya bencana.

Dalam kegiatan distribusi lima juta masker medis yang GP Ansor lakukan bersama Aice Group dan Kantor Staf Presiden (KSP) di 20 kota Indonesia, para aktivis membangun gerakan pentahelix yang terdiri dari banyek elemen pemangku kepentingan. Gerakan ini melibatkan puluhan Pemerintah Daerah, ratusan ormas dan organisasi kampus serta keagamaan, hingga ratusan media massa nasional dan daerah.

“Menangani bencana untuk negeri sebesar kita haruslah dengan menghimpun dukungan semua pihak. Gerakan pentahelix yang kami jalankan bersama Aice Group sudah membuktikan bahwa kombinasi dukungan swasta, pemerintah, dan banyak helix lain telah membantu gerakan Banser Ansor dan Aice dalam menjalankan misi kemanusiaan bersama. Bukan hanya untuk mengurangi dampak bencana fisik, tapi juga mengurangi potensi penularan covid-19,” jelas Faisal.

Gerakan pentahelix ini membagikan jutaan masker medis ke masyarakat bawah yang paling rentan terpapar virus covid-19. Jutaan masker medis SHIELD-Aice ini mereka bagikan ke belasan unsur masyarakat seperti petugas kebersihan, organisasi keagamaan, rumah ibadah, petugas pemakaman, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dan elemen masyarakat kelas bawah lainnya.

Kampanye distribusi 5 juta masker medis SHIELD-Aice yang dijalankan sejak Oktober tahun lalu dijalankan di Jakarta, Bogor, Cirebon, Bandung, Rembang, Semarang, Batang, Surabaya, Ambon, Palembang, Medan, Batam, Yogyakarta, Malang, Lumajang, Denpasar, Makassar, Lampung, Banjarmasin hingga terakhir di Manado.

Masker medis yang didistribusikan dalam kampanye bernama Aice-SHIELD ini memiliki spesikasi tinggi. Masker medis ini memiliki bahan berkualitas tinggi dan diproduksi sendiri oleh Aice Group. Pihak Aice juga menjelaskan bahwa SHIELD sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Selain 5 juta masker medis yang didistribusikan ke kalangan masyarakat luas di 20 kabupaten dan kota, Aice juga membagikan 15 juta masker lainnya ke masyarakat lewat jaringan penjual es krim Aice di masyarakat. Semua masker dibagikan secara gratis sebagai sumbangan kemanusiaan dan tidak diperjualbelikan.

Dalam perjalanannya, kampanye distribusi jutaan masker ini menemui banyak hal menarik yang berguna dalam memperbaiki langkah pemerintah dan masyarakat dalam melawan pandemi. Juru Bicara sekaligus Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong mengakui berbagai aspek sosial dan budaya ikut memengaruhi kesuksesan kampanye masker di masyarakat.

Baca juga : Hari ini, 136 Warga Jambi Terkonfirmasi Positif Covid-19

“Kami melihat masyarakat grassroot banyak menyuarakan isu ekonomi dan kesulitan hidup sebagai dampak pandemi. Kombinasi penanganan ekonomi oleh pemerintah, dengan kebutuhan edukasi lewat tiap kearifan lokal agar warga mau membatasi jarak dan memakai masker, membuat kami yakin pentahelix dari tokoh masyarakat, agamawan, budayawan, kepala daerah dan peran media menjadi kunci sukses pencegahan perluasan pandemi,” jelas Sylvana. 

Menurut Sylvana, penjelasan dan contoh dari para key opinion leader dan tokoh masyarakat bawah dalam berbagai dimensi meningkatkan kans keberhasilan menekan laju penularan virus tersebut. 

Karenanya, ia bersama dengan KSP dan GP Ansor menggunakan jejaring masyarakat bawah yang menggunakan bahasa lokal, ajaran agama, penokohan pemimpin daerah, dan komunikasi publik lewat media massa dan medsos di puluhan kota tersebut.

Pendekatan multi-dimensi bukan hanya dijalankan pada pelibatan tokoh masyarakat. Dalam konteks isu yang dibangun, kampanye 5 juta masker mengangkat berbagai isu yang relevan di tiap wilayah.

Pertimbangan soal kearifan lokal turut melatarbelakangi dua pendekatan tersebut. Di Cirebon, Semarang dan Rembang, kampanye masker mengangkat soal isu Prokes yang terbaik bagi kalangan kalangan pesantren dan aktifitas keagamaan seperti di masjid.

Namun di Manado dan Ambon, gerakan pentahelix ini menjadikan aktifis pemuda dan rohaniawan gereja setempat sebagai ujung tombak kampanye. 

Beda lagi dengan di daerah bencana alam yang terjadi belum lama di Jogjakarta, Lumajang, Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan. Di empat wilayah ini, gerakan pentahelix 5 juta masker, memperkuat pertahanan masyarakat baik yang mengungsi maupun yang terdampak dengan ratusan ribu masker di tiap titik.

Meski demikian, di Malang kampanye masker medis ini menyuarakan soal berbeda. Saat berbagai titik wisata di Malang Raya mulai dibuka untuk umum, Aice dan GP Ansor mengingatkan soal resiko penularan yang cukup besar di klaster pariwisata.

Bersama dengan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah, gerakan 5 juta masker berusaha memberikan bahasa yang mudah, ringan, kontekstual dan disuarakan oleh tokoh di tiap masyarakat itu sendiri.

"Aice tidak berhenti di kampanye ini saja, tetapi akan melanjutkan edukasi dengan cara yang lebih seru, yakni program  'Jagoan Sehat Bawa Hadiah Besar'.Program inovatif ini menggabungkan edukasi protokol kesehatan dalam mengingatkan konsumen untuk hidup sehat selama pandemi dan menambah kebahagiaan dari hadiah besar yang didapatkan melalui stik es krim serta masker karakter edisi terbatas,” tutup Sylvana. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT