08 June 2021, 16:43 WIB

Teknologi Deteksi Tsunami Ditargetkan Beroperasi Penuh 2024


Faustinus Nua | Humaniora

KEPALA BPPT Hammam Riza mengatakan sejak tahun 2019 telah membangun tiga teknologi deteksi tsunami berbasis buoy, kabel serat optik, dan akustik tomografi. Hal itu guna mendukung sistem peringatan dini tsunami di Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System/ InaTEWS) yang ditargetkan dapat beroperasi penuh di tahun 2024.

"BPPT telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di 7 lokasi, InaCAT di 3 lokasi dan didukung dengan pengolahan kecerdasan artifisial. Semua Teknologi InaTEWS ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024," ungkapnya dalam media gathering, Selasa (8/6).

Baca juga : ITAGI Tunggu Hasil Uji Klinis Soal Vaksinasi Anak

Dijelaskannya, pembangunan sistem peringatan dini tersebut merupakan amanah dari Perpres No. 93 Tahun 2019  tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami. Mengingat Indonesia berada di zona Ring of fire yang letak geografisnya berada di antara pertemuan 3 lempeng tektonik besar yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Jalur yang dilalui pertemuan lempeng inilah yang menjadi zona rawan gempa di Indonesia.

Lantas, BPPT pun mengembangkan teknologi kebencanaan InaTEWS menggunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi.

"Sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan BNPB untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia," imbuhnya.

Hammam pun berharap dukungan dari semua stakeholders dan membangun sinergi antar BPPT dan Pemerintah Daerah, Institusi Riset dari dalam dan luar negeri, asosiasi dan lembaga sosial masyarakat, industri/swasta, dan media, sehingga Program Nasional InaTEWS dapat terlaksana dengan konsep pentahelix. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT