03 June 2021, 15:40 WIB

UI Targetkan Uji Klinis Vaksin Merah-Putih Awal 2022


Faustinus Nua | Humaniora

Tim pengembangan vaksin covid-19 Universitas Indonesia (UI) menargetkan uji klinis vaksin dapat dilaksanakan pada awal tahun 2022.

"Saat ini kami sepakat agar uji klinis fase I paling cepat baru dimulai di awal tahun 2022, demi pemenuhan standar safety dan efikasi yang disyaratkan Badan POM," ungkap Koordinator dan Peneliti Vaksin Covid-19 UI Budiman Bela kepada Media Indonesia, Kamis (3/6).

Saat ini, lanjutnya pengembangan vaksin masih dalam proses alih teknologi ke industri. Tahapan tersebut dinilai cukup rumit, sehingga tidak akan kelihatan signifikan progresnya dan memerlukan pembentukan sistem yang menyatukan tim periset dengan tim produksi di perusahaan industri vaksin.

Baca juga: Ketua Satgas Pastikan Penerapan 3M Berjalan Optimal

Menurut Budiman, Indonesia secara umum belum terlalu berpengalaman dalam hilirisasi produk riset di bidang life science. Lantas memerlukan waktu untuk membentuk sistem dan menyediakan berbagai perangkat yang diperlukan untuk hilirisasi.

"Ini tentunya bukan hanya dari sisi teknologi di bidang industri vaksin, tapi juga dalam manajemen business dan manajemen R&D," imbuhnya.

Selain itu, secara internal UI juga perlu merapihkan berbagai sistem dan alur kerjasama lintas unit. Agar semua dukungan yang dibutuhkan untuk kegiatan vaksin Merah Putih di UI dapat terlaksana sesuai dengan aturan yang berlaku, khususnya dalam hal akuntabilitas tatakelola dan keuangan.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa sebelum tahap uji klinis tentunya harus sudah terjadi produksi di fasilitas GMP pihak industri vaksin untuk digunakan dalam uji praklinis pada hewan coba. Hal itu sedang upayakan agar dapat terlaksana dalam tahun ini.

Baca juga: Keselamatan, Faktor Utama Pembatalan Jemaah Haji Indonesia

"Untuk uji pada hewan coba antara lain memerlukan fasilitas BSL-3. Disini kami akan meminjam fasilitas yang tersedia di institusi lain. Juga akan bekerjasama dengan tim peneliti dari institusi lain, misalnya IPB untuk uji coba pada hewan primata," terangnya.

Adapun, Budiman membeberkan bahwa selama proses pengembangan vaksin ada banyak kendala. Hal itu yang sedang satu persatu sedang diselesaikan.

Kendala pertama, yakni keterbatasan fasilitas penelitian dan solusinya harus bekerjasama lintas institusi penelitian. Kemudian, pihak industri pun belum berpengalaman dalam teknologi vaksin yang sedang dikembangkan oleh UI. Dan solusinya adalah dengan memberikan penjelasan mengenai teknologi vaksin yang sedang dikembangkan UI dan segera membentuk tim alih teknologi dari laboratorium penelitian ke fasiltias produksi.

Di samping itu, diperlukan juga pendanaan dalam berbagai penelitian hilirisasi dan solusinya harus mendapatkan investor dari dalam negeri. Demikian dengan peralatan-peralatan tertentu yang belum tersedia di Indonesia.

Pihaknya pun membutuhkan tambahan tenaga peneliti dan perekayasan dengan kompetensi tertentu. Sehingga harus melakukan pelatihan dan mengupayakan pembiayaan SDM dari investor dalam negeri.

"Selama ini Badan POM sangat membantu dalam memberikan berbagai pelatihan dan pedoman untuk kami penuhi persyaratannya. Jadi tim kami menggunakan pedoman tersebut untuk melakukan perencanaan berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan. Semua ada solusinya bila kita tidak menyerah," tutupnya.(H-3)
 

BERITA TERKAIT