03 June 2021, 14:11 WIB

Unair dan Eijkman Terdepan Kembangkan Vaksin Merah-Putih


Faustinus Nua | Humaniora

UPAYA Indonesia untuk mewujudkan kemandirian vaksin di tengah derasnya arus vaksin impor mulai menunjukan progres yang menjanjikan. Dua tim dari ketujuh tim pengembangan vaksin Merah-Putih kini mulai memasuki tahap uji praklinis dan upgrade bibit vaksin.

"Saat ini semua masih berprogres, mengejar waktu agar bisa segera naik ke tahap uji praklinis. Dari 7 Tim saat ini, untuk sementara tim Unair dan diikuti Eijkman yang paling maju progresnya," ungkap Kepala BRIN Laksana Tri Handoko kepada Media Indonesia, Kamis (3/6).

Universita Airlangga (Unair) saat ini sudah sampai pada tahap menuju uji praklinis hewan. Sedangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman masuk ke upaya upgrade kandidat bibit vaksin agar lebih efektif.

Sementara, 5 tim lainnya yakni tim Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjajaran (Unpad), Intitut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masih dalam pengembangan lanjutan bibit vaksin.

"Tim LIPI mengubah fokus ke produksi protein yang juga krusial untuk pengembangan vaksin. (Vaksin) masih dijalankan, tetapi prioritas saat ini ke protein dulu karena belum ada, padahal itu sangat diperlukan saat produksi vaksin," jelasnya.

BRIN pun terus mendorong pengembangan vaksin dari ketujuh tim tersebut. Dengan merealokasikan anggaran Rp80 miliar untuk riset Covid-19 diharapkan dapat membantu tim riset yang banyak terkendala fasilitas dan teknologi.

Baca juga : Dukung Riset Vaksin Covid-19, BRIN Realokasi Anggaran Rp80 M

Di samping itu, BRIN juga tetap memberi target kepada ketujuh tim untuk melakukan riset hingga tuntas. Pengembangan vaksin lokal didorong sampai pada tahap 'terbukti secara ilmiah' dan mampu 'memenuhi standar regulasi terkait'

"Sehingga (vaksin) manapun yang akan jadi, itu benar-benar 'jadi' dan dapat diterima secara ilmiah, memenuhi regulasi untuk diproduksi, serta dapat diproduksi secara massal untuk kebutuhan masyarakat," kata Handoko.

Sementara itu, Kepala Lembaga Eijkman Amin Soebandrio mengatakan bahwa pihaknya berharap dapat melakukan uji klinik di kuartal 4 tahun ini. Sehingga produksi massal ditargetkan bisa berjalan pada pertengan tahun 2022.

"Setelah melewati sejumlah tahap termasuk mendapat EUA, maka produksi masal pun bisa dilakukan," kata dia.

Hingga kini, pengembangan vaksin berbasis protein recombinan itu memasuki tahap akhir pengembangan (research and development/ R&D). Bibit vaksin kemudian akan dialihka ke industri yakni PT Biofarma.

Amin menerangkan tahapan-tahapan pengembangan sejauh ini berjalan dengan baik. Rangkaian uji coba di laboratorium pun menunjukan hasil positif untuk bisa diteruskan ke industri.

Di samping itu, vaksin dengan platform protein recombinan diklaimnya sebagai yang paling aman. Dari segi biaya pun, pkatform itu lebih ekonomis karena bahannya yang mudah diperoleh lantaran sudah dikenal banyak negara berkembang dalam mengembangkan vaksin.

"Dia aman, bisa dianggap yang paling aman dari semua platform, termasuk efek samping yang dikhwatirkan itu paling kecil, bahkan tidak ada. Efikasinya juga tinggi," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT