18 May 2021, 18:17 WIB

Presiden: Waspada Kenaikan Kasus Covid-19 Setelah Lebaran


Andhika Prasetyo | Humaniora

PRESIDEN Joko Widodo meminta seluruh kepala daerah untuk bersiaga dalam menghadapi potensi kenaikan kasus aktif covid-19 setelah libur Lebaran. Permintaan Kepala Negara disampaikan bukan tanpa alasan.

Sebab, pemerintah mencatat dalam kurun waktu 6-17 Mei, sekitar 1,5 juta orang melakukan perjalanan mudik.

"Tadi pagi saya mendapat data. Ada 1,5 juta orang yang mudik dalam kurun 6-17 Mei," ujar Jokowi, sapaan akrabnya, saat memberikan arahan kepada kepala daerah secara virtual dan internal, yang kemudian diunggah dalam akun YouTube resmi, Selasa (18/5).

Baca juga: Jokowi Targetkan 70 Juta Warga Sudah Divaksin pada September

Tidak hanya itu, mobilitas yang sangat besar di sejumlah tempat wisata juga menjadi catatan tersendiri. Pada masa libur Lebaran, kunjungan masyarakat ke kawasan wisata melonjak di kisaran 38-100,8%.

Begitu pula dengan tingkat keterisian hotel di beberapa provinsi, yang terpantau mengalami lonjakan. Seperti, wilayah Riau dan DKI Jakarta. "Dua minggu ke depan, semua hati-hati. Kalau mobilitas naik, ini harus hati-hati," tegas Jokoi.

Kepala Negara mengakui bahwa perjalanan mudik, tempat wisata dan hotel yang penuh, berdampak positif bagi roda perekonomian daerah dan nasional. Namun, di sisi lain, kondisi itu bisa merusak kembali sistem kesehatan nasional yang mulai berangsur pulih.

Baca juga: Hipertensi Jadi Komorbid Tertinggi Covid-19

"Dari sisi ekonomi memang baik, tapi di sisi kesehatan harus dikendalikan betul. Kalau dua-duanya bisa dikelola dengan baik, dikendalikan dengan manajemen yang ketat, tidak masalah. Yang bahaya itu kalau kita tidak bisa kendalikan kesehatannya," jelasnya.

Lebih lanjut, dia berharap sekalipun ada kenaikan kasus positif covid-19, jumlahnya tidak akan sebesar periode awal tahun ini. Diketahui, puncak kasus aktif covid-19 di Tanah Air terjadi pada Februari 2021, yakni mencapai 176 ribu jiwa. Angka tersebut sudah turun drastis menjadi 90 ribu orang.

"Kita harus belajar dari negara-negara tetangga. Gelombang kedua dan ketiga sudah terjadi di sana. Malaysia sudah lockdown sampai Juni. Singapura juga sudah lockdown sejak Mei dan sekarang semakin ketat," tutup Presiden.(OL-11)

BERITA TERKAIT