09 May 2021, 05:55 WIB

Agama Lokal


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal |

SEBELUM Islam dan agama-agama besar lainnya, sudah ada agama-agama lokal di Nusantara. 

Manusia sebagai zoon religion tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan agama dan/atau kepercayaannya.

Sekafir apa pun seseorang, pasti memiliki rongga agama di dalam dirinya. Orang yang berpaham komunis bisa saja mengingkari adanya Tuhan, tetapi tidak akan pernah bisa mengingkari adanya misteri kehidupan. Di mana ada misteri di situ ada God Spot yang bekerja di dalam alam bawah sadar manusia.

Misteri kehidupan setiap manusia menjadi bukti adanya Tuhan yang biasa disebut kekuatan supernatural, kekuatan gaib, keajaiban alam, atau apa pun namanya.

Dengan demikian, jauh sebelum agama-agama besar datang ke negeri ini, seperti Hindu, Buddha, Protestan, Katolik, Islam, dan Konghucu, bangsa Indonesia sudah mengenal sistem religi. Bahkan sejumlah etnik sudah mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa.

Seperti masyarakat Bugis-Makassar, sebagaimana tertera di dalam Lontara (manuskrip kuno yang tercatat di dalam daun lontar--kini tersimpan di museum Belanda), menyebutkan kepercayaan terhadap Tuhan Dewata Sewwae (Dewata=Tuhan, Sewwa=Esa).

Dalam epik Lagaligo, yang oleh Profesor Zainal Abidin disebut sezaman dengan Nabi Muhammad (abad ke-6 Masehi), masyarakat Bugis Makassar sudah ber-Dewata Sewwa.

Bukti-bukti arkeologis dan antropologis menunjukkan adanya aktivitas manusia prasejarah di kawasan Nusantara sejak ribuan tahun lalu.

Ditemukannya beberapa fosil manusia purba seperti Meganthropus paleojavanicus (Sangiran), Pithecanthropus robustus (Trinil), Pithecanthropus erectus (Homo Erectus), Pithecanthropus dubius (Jetis), Pithecanthropus mojokertensis (Perning), Homo javanensis (Sambung Macan), Homo soloensis (Ngandong), Homo sapiens archaic, _Homo sapiens neandertahlman Asia, Homo sapiens wajakensis (Tulungagung), dan Homo modernman, menunjukkan adanya masyarakat purba Nusantara.

Analisis kehidupan manusia purba Indonesia menunjukkan adanya aktivitas budaya dan peradaban serta sistem religi sehingga sulit untuk mengatakan bahwa Hindu dan Islam yang begitu banyak memberi bekas di dalam seni, budaya, dan peradaban Nusantara, seolah-olah memasuki ruang yang hampa budaya sehingga mereka dianggap mengisi kekosongan itu.

Justru para raja lokal serta-merta memeluk agama Hindu-Buddha kemudian Islam karena menganggapnya bagian dari kelanjutan dari sistem religi yang dipertahankan secara turun-temurun.

Ptolemaus, sang penemu banyak negeri, menggambarkan adanya kepulauan yang disebut Khersonesos (Yunani: Pulau emas) dan sejarah Tiongkok yang disebutnya dengan Ye-po-ti yang di antaranya diperkenalkan dengan Jabadiou/Jawa.

Di zaman ini sudah dikenal wilayah Jawadwipa, Swarnadwipa, Bugis, dan lain-lain. Masyarakat yang menghuni kepulauan ini sudah mengenal sistem religi dan memercayai adanya kekuatan gaib dan sistem penyembahan terhadap kekuatan gaib tersebut.

Ini membuktikan bahwa kemudahan masyarakat bangsa Indonesia memeluk agama yang baru dikenalnya karena mereka sudah memiliki pengalaman batin, yang antara satu sama lain agama-agama yang datang ke negeri ini memiliki unsur persamaan.

Analisis sistem budaya juga menggambarkan masa ini sebagai masa akulturasi yang amat penting, di mana budaya dan sistem religi luar bisa beradaptasi dalam konteks budaya kepulauan Nusantara.

Di dalamnya ada pengaruh Hindu, Arab (Islam), Tiongkok, Portugis, dan Inggris. Sistem budaya, sistem religi, sistem ekonomi, dan sistem teknologi sudah banyak ditemukan di pusat-pusat kerajaan Nusantara sejak dahulu kala.

BERITA TERKAIT