09 May 2021, 05:30 WIB

Masjid Jogokariyan yang tidak Pernah Sepi


Ardi Teristi/H-2 |

MASJID Jogokariyan yang berlokasi di Kampung Jogokariyan, Kelurahan Mantrirejon, Yogyakarta, tidak pernah sepi. Masjid yang berasal dari sebuah langgar kecil di atas tanah wakaf pedagang batik itu terbuka 24 jam bagi siapa pun.

Suatu ketika, seorang pengemudi becak menyerahkan infak senilai Rp300 ribu karena merasa terbantu dengan kehadiran masjid tersebut. Kepada pengurus masjid yang masih keheranan, sang pengemudi becak mengakui uang itu merupakan bantuan langsung tunai yang baru saja didapatnya.

Di masjid ini, ia memang sering singgah untuk istirahat, mandi, dan ganti baju, tanpa harus diomeli atau diusir. Hal itu berbeda dengan kebanyakan masjid yang hanya membuka diri saat jam salat dan melarang untuk orang untuk mandi.

Karena keramahan masjid dan pintunya yang selalu terbuka itulah, sang pengemudi becak telah bertekad untuk menyumbangkan rezekinya untuk masjid itu suatu saat nanti.

Koordinator Imam dan Muadzin serta anggota Tim Manajemen Masjid Jogokariyan, Rizal mengamini kisah pengemudi becak tersebut yang viral di media sosial. Menurutnya, kisah tersebut terjadi sekira tahun 2004.

"Masjid ini memang terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan, mengambil manfaatnya saja tidak apa-apa," terang Rizal, Kamis (6/5), ketika ditemui Media Indonesia, selepas salat zuhur.

Ia mengatakan, siapa pun orang yang datang ke masjid yang dibangun 1966 itu, tidak akan dipaksa untuk salat dulu untuk bisa memanfaatkan fasilitas yang ada. "Orang datang hanya untuk menggunakan toilet saja dipersilakan dan tidak ada paksaan untuk memberi infak," imbuhnya.

Bukan hanya pintu masjid yang terbuka 24 jam, kamar mandi dan toiletnya juga bisa diakses 24 jam karena tidak pernah dikunci. Letak masjid yang berada di pinggir jalan persis memang membuatnya sering disinggahi orang dari luar Jogokariyan. Apakah itu untuk beristirahat, menggunakan toilet, ataupun beribadah.

"Yang terpenting, masjid ini bisa dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat. Bahkan, nonmuslim nggak apa-apa cuma numpang ke toilet," ujar dia.

Keterbukaan Masjid Jogokariyan yang dirasakan si pengemudi becak, dirasakan pula oleh seorang pengemis bernama Wakijan, 62. Ia sengaja singgah di Masjid Jogokariyan sekadar untuk beristirahat. Selain tempatnya bersih, ia tidak ditanya macam-macam oleh pengurus masjid. "Saya dari Pleret (Bantul). Saya saat Ramadan mengemis zakat," aku dia.

Di masa pandemi covid-19, Masjid Jogokariyan Yogyakarta ikut melaksanakan protokol kesehatan ketat. Masjid juga memberikan bantuan bagi warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah seperti kebutuhan sehari-hari, obat-obatan, hingga pemantauan kesehatan.

"Bagi warga yang tidak bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, kami siapkan fasilitasi isolasi mandiri," kata Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir dilansir dari Antara.

Masjid juga memberikan bantuan berupa fasilitasi kepada jemaah dan juga warga di kampung tersebut untuk menjalani tes cepat antigen. Dari 100 orang yang menjalani tes cepat, hasilnya sebanyak 35 di antaranya dinyatakan positif covid-19.

Belakangan ini, masjid itu menjadi buah bibir masyarakat se-Indonesia, setelah berhasil menggalang donasi miliaran rupiah untuk membeli kapal selam pengganti KRI Nanggala-402. (Ardi Teristi/H-2)

BERITA TERKAIT