08 May 2021, 05:15 WIB

Mencintai Allah di Atas Harta, Pasangan dan Anak


Quraish Shihab | Humaniora

TAFSIR Al Mishbah episode 26 melanjutkan pembahasan surah At-Taghabun dimulai dari ayat 14-18. Surah ini terdiri atas 18 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah serta diturunkan sesudah surah At-Tahrim.

Nama At-Taghabun diambil dari kata at taghaabun yang terdapat pada ayat ke-9 yang artinya hari ditampakkan kesalahan-kesalahan. Pada ayat ke-14 dijelaskan, ada di antara istri-istri dan anak-anak yang menjadi musuh bagi suami dan orangtuanya yang mencegah mereka berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang menjerumuskan mereka kepada perbuatan maksiat, perbuatan haram yang dilarang agama.

Disebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat ini ketika pada masa hijrah ke Madinah, ada sahabat Nabi yang tulus beriman dan ingin berhijrah dari Mekah ke Madinah. Namun, ada sebagian mereka yang memiliki istri dan anak, meminta agar mereka para suami tidak hijrah.

Kecintaan yang berlebihan pada istri dan anak melebihi kecintaannya kepada agama dan Allah. Kita tidak dilarang untuk mencintai pasangan dan anak. Bahkan, sangat dianjurkan dan tidak bertentangan dengan mencintai Allah. Namun, baru bertentangan kalau cinta kepada pasangan dan anak melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ayat ke-15 berbunyi, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allah pahala yang besar." Allah menerangkan bahwa cinta terhadap harta dan anak ialah cobaan. Maka jika tidak berhati-hati, akan mendatangkan bencana.

Pada ayat ke-16 menjelaskan agar kita mengerahkan segala usaha dan kemampuan untuk bertakwa kepada Allah. Begitu juga agar kita memberi infak atas rezeki yang telah diberikan kepada kita.

Ayat ke-16 ini ditutup dengan satu penegasan bahwa orang yang menjauhi kebakhilan dan ketamakan pada harta termasuk golongan orang yang beruntung. Maka dia akan mencapai keinginannya di dunia dan akhirat, serta disenangi teman-temannya.

Ayat ke-17 menjelaskan jika kita menafkahkan atau infak harta untuk kebajikan dengan ikhlas, Allah akan melipatgandakan pahala infak tersebut dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Selanjutnya, ayat ke-18 menerangkan, Allah Maha Mengetahui yang gaib apalagi yang tampak. Apa saja yang dikerjakan manusia, semuanya tercatat dan tersimpan di sisi-Nya. Semua kehendak-Nya terwujud menjadi kenyataan, Mahabijaksana mengatur ciptaan-Nya dan memberikan apa yang baik kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Fer/H-3)

BERITA TERKAIT