06 May 2021, 17:03 WIB

IPB: Waspadai Penularan Covid-19 dari Hewan


Atalya Puspa | Humaniora

GURU Besar IPB University Ronny Rachman menyebut covid-19 mulai menulari hewan. Berdasarkan pengamatannya, sampai saat ini kalangan ilmuwan mengklaim tidak ada bukti bahwa hewan memainkan peran dalam penularan penyakit terhadap manusia.

"Namun, data di lapangan menunjukkan terjadi penularan covid-19 pada berbagai spesies di seluruh dunia. Seperti, anjing, kucing, kera dan cerpelai (mink)," jelas Ronny dalam keterangan resmi, Kamis (6/5).

Kasus penularan covid-19 pada kucing dan anjing sudah dilaporkan di beberapa negara. Kasus pertama positif covid-19 di dunia pada anjing dilaporkan terjadi di Hong Kong. Adapun kasus pertama kucing yang dites positif terjadi di Inggris pada Juli 2020.

Baca juga: Draf Laporan WHO: Hewan Diduga Jadi Sumber Covid-19

Kasus pertama yang terjadi di Amerika Serikat terjadi pada seekor harimau di Kebun Binatang Bronx. Belakangan, dinyatakan delapan gorila di Kebun Binatang San Diego juga positif covid-19. Diduga hewan tersebut sakit setelah terpapar penjaga kebun binatang yang terinfeksi covid-19.

“Masalah yang lebih serius terjadi pada cerpelai (mink). Hewan semi akuatik yang dibudidayakan untuk diambil bulunya. Beberapa negara melaporkan infeksi pada mink. Dalam beberapa kasus sangat parah dan mengalami kematian,” imbuhnya.

Hal yang paling mengkhawatirkan ialah bukti bahwa cerpelai menularkan virus covid-19 yang telah bermutasi ke manusia. Dari berbagai kasus yang dilaporkan, penularan ini diduga terjadi dari manusia ke hewan peliharaan. Namun, jika di kemudian hari terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan varian virus hasil mutasi, pandemi covid-19 akan semakin sulit dikendalikan.

Baca juga: Kemenkes: 59 Warga Asal India Positif Covid-19

Penularan virus covid-19, yang bukan tidak mungkin semakin meluas, juga memberikan sinyal lampu merah bagi hewan langka, seperti gorila. Sebab, dapat mengancam keberlangsungan hewan yang sudah berstatus langka.

“Para ahli juga khawatir bahwa, jika virus menyebar luas di antara hewan, virus varian baru hasil mutasi dapat muncul. Secara teori, varian ini diprediksi resisten terhadap vaksin yang saat ini sedang diluncurkan di seluruh dunia,” terang Ronny.

Baca juga: Ilmuwan Sebut Pemerintah India Abaikan Peringatan Mutasi Covid-19

Kekhawatiran akan terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan virus yang mengalami mutasi, memunculkan pemikiran urgensi vaksin covid-19 khusus untuk hewan. Tidak hanya memutus rantai penularan dari manusia ke hewan dan antarhewan, namun juga mengantisipasi penularan balik dari hewan ke manusia.

Diketahui, virus yang mengalami mutasi pada hewan, jika menular kembali pada manusia diperkirakan daya tularnya lebih cepat dan lebih berbahaya.

“Rusia tercatat sebagai negera pertama di dunia yang berhasil mengembangkan dan memproduksi vaksin covid-19 khusus untuk hewan. Telah disetujui penggunaannya bulan ini. Vaksin produksi Rusia dinamakan Carnivak-Cov, yang dapat digunakan pada anjing, kucing, mink, hingga rubah," pungkas Ronny.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT