03 May 2021, 06:34 WIB

Stranas Kecerdasan Artifisial Untuk Jawab Tantangan Industri 4.0


Mediaindonesia.com | Humaniora

UNTUK mendukung kebijakan nasional dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial (KA) di beberapa sektor prioritas pembangunan nasional, seperti sektor kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan dan smart city, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA).

Stranas KA ini diresmikan oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin untuk menjawab tantangan pengembangan KA di Indonesia. Terutama untuk kesiapan regulasi yang mengatur etika penggunaan, kesiapan tenaga kerja, kesiapan infrastruktur dan data pendukung pemodelan. Serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi inovasi KA.

"Stranas KA menjadi indikator bagi sebuah negara yang siap beradaptasi dengan kemajuan industri 4.0 yang ditandai dengan KA, big data dan cloud computing. Ini semua melambangkan bahwa negara itu betul-betul ingin menghela pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan bagian dari roadmap kemajuan jaman, dan juga kemajuan dari sebuah bangsa dan negara. Indonesia juga sudah memiliki making Indonesia 4.0 yang berusaha meletakkan roadmap strategi Indonesia agar menjadi salah satu ekonomi terkuat di dunia. Pada saat Indonesia 100 tahun merdeka, disituah Stranas KA merupakan jalan menuju Indonesia 45," terang Kepala BPPT Hammam Riza dalam Talkshow bersama Pandi Institute, Sabtu (1/5).

Stranas KA menyertakan roadmap jangka pendek (1th), menengah (3-5 th) dan jangka Panjang (5-10 th), untuk masing-masing aspek baik itu pengembangan talenta KA, etika dan kajian kebijakan KA, infrastruktur dan data KA, riset dan inovasi industri KA, serta program prioritas dan quick win implementasi KA. Juga target yang perlu dicapai secara nasional agar implementasi KA berjalan secara optimal, efisien dan efektif sehingga bisa segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

baca juga: BPPT

Pengembangan talenta menurut Hammam penting karena harus mampu bersaing dengan talenta negara lain. Kemudian terkait data dalam pengembangan KA di Indonesia bukanlah hal mudah, karena data yang dimiliki meskipun banyak namun berserakan, tidak terstruktur, dan terbagi di beberapa lokasi. Dalam aspek riset dan inovasi industri, usecases dari berbagai sektor pembangunan diharapkan muncul. BPPT sedang berupaya riset dan inovasi industri memunculkan aplikasi yang dibuat oleh perusahan dan industri Indonesia baik start up maupun perusahan besar.

"Di awal terjadinya pandemi covid-19, Stranas baru terbentuk dan BPPT bukanlah pemain tunggal dalam menghasilkan Stranas, namun bekerjasama dengan multistakeholder. Selain Stranas, BPPT juga menyiapkan Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial (PIKA) yang tugasnya mendukung pengembangan ekosistem inovasi, supaya pada saat Peraturan Presiden terkait KA dihasilkan maka ada sebuah bentuk kelembagaan yang less bureacratic dan kemudian bisa menjadi wadah satu perkumpulan seperti Pandi untuk kolaborasi riset dan inovasi KA," jelasnya

Salah satu yang sudah dihasilkan menjadi baseline PIKA yaitu Prediksi Kebencanaan berbasis Kecerdasan Artifisial (PEKA) Api dan PEKA tsunami. PEKA Api merupakan model forecasting yang mengacu pada kemampuan kita melihat pola karhutla.

"Hampir setiap tahun terjadi karhutla dan banyak menimbulkan kerugian. Karhutla bukan sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Dengan adanya prediksi cuaca, kemudian melihat tinggi muka air di lahan gambut sebagai indikator yang dipasangi sensor, kemudian muncul kemampuan AI untuk memprediksi kapan saat yang tepat untuk melakukan TMC. Sementara PEKA tsunami menjadi model prediksi korelasi gempa di kedalaman tertentu dan lokasi tertentu apakah berpotensi membangkitkan tsunami atau tidak," terang Hammam.

BPPT juga telah mengembangkan KA untuk deteksi Covid-19 melalui citra medis x-ray dan ct scan. KA dimanfaatkan untuk membaca ada tidaknya virus Sarcov2 di paru-paru pasien. KA sangat bagus untuk mengenali image understanding. Inilah yang diperkuat dengan ribuan data yang dikumpulkan melalui RS dan kerjasama internasional, sehingga sistem AI untuk Covid-19 bisa memberikan deteksi membantu radiolog membuat sebuah keputusan (AI for decision support).

Tantangan implementasi KA di Indonesia, disebutkan Hammam masih banyak gap di bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Keberterimaan terhadap AI ini masih belum menyeluruh. AI adalah sebuah kecerdasan untuk pekerjaan yang sifatnya repetitif dilakukan oleh manusia, dengan AI bisa lebih cepat dilakukan. Kemudian di bidang investasi, teknologi ini memerlukan investasi baik dari SDM maupun dari penguasaan teknologinya terutama dari data dan infrastruktur.

"Ini menjadi bagian dari upaya kita untuk menciptakan sebuah wadah dimana kemudian industri KA kita mampu scaling up bila dipakai banyak pihak. Karenanya saya berharap PIKA menjadi bagian dari upaya kita menemukan ide kreatif, menghasilkan start up, hingga menghasilkan scale up dari perusahaan-perusahaan Indonesia."

Indonesia juga tidak terlalu ketinggalan dalam penerapan KA. Teknologi ini telah diterapkan dalam sistem smart city di Jakarta, Bandung, dan Tangerang. Kemudian untuk pertanian dengan konsep e-farming, maupun yang terbaru Kepolisian RI telah menerapkan sistem e-Tilang dengan memanfaatkan jaringan kamera pengawas (CCTV) di beberapa titik yang akan menindak langsung para pelanggar dengan mengirimkan surat tilang melalui email, pesan whatsapp, maupun surat fisik langsung.

Di luar dari pemanfaatan atau penerapan, kegiatan riset dan inovasi di bidang KA juga sudah mulai dilakukan oleh sebagian besar lembaga penelitian, seperti BPPT, Kementerian Komunikasi, kementerian/lembaga lain, hingga perguruan tinggi. Bahkan sekarang sudah menjamur bisnis startup yang berbasis teknologi KA di Indonesia, seperti Nodeflux, Kata.Ai, Bahasa Kita, dan Prosa.ai. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT