02 May 2021, 22:20 WIB

Mengenal Sputnik V, Vaksin asal Rusia di Program Vaksinasi Mandiri


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

SEMUA negara, termasuk Indonesia, saat ini berjuang melawan pandemi Covid-19. Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk memerangi pandemi Covid-19 dengan mengatur penyediaan dan distribusi vaksin Covid-19, serta program vaksinasi. 

Untuk memastikan semua warga mendapatkan vaksin Covid-19,  pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 10/2021 mengizinkan perusahaan swasta untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi dengan membeli vaksinnya sendiri. Dengan skema yang dinamakan Vaksinasi Gotong Royong, vaksin akan dipesan dan dibeli oleh Bio Farma di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dan berkoordinasi dengan pemerintah. 

Selain itu, karyawan tetap dapat memilih mengikuti Vaksinasi Gotong Royong atau menunggu program vaksinasi pemerintah.

Program vaksinasi gotong-royong merupakan program vaksinasi yang dilakukan pihak swasta atau perusahaan yang diberikan secara gratis kepada para pekerja. Kamar Dagang dan Industri menyebutkan vaksin yang akan digunakan dalam program tersebut rencananya adalah Sinopharm dan Sputnik V.

Kandidat Doktor Medical Science di Kobe University, Jepang, Adam Prabata mengungkapkan, efikasi Sinopharm dari Tiongkok yang mencapai 86% dan Sputnik V dari Rusia yang mencapai 97,6% adalah untuk mencegah Covid-19 yang bergejala. 

"Kedua vaksin tersebut sudah terbukti efikasi dan keamanannya. Namun, protokol kesehatan tetap harus dilakukan meskipun sudah mendapatkan vaksin Sinopharm atau Sputnik V," katanya dalam keterangan tertulis.

Baca juga : Jokowi: Jangan Lengah dan Tetap Waspada Covid-19

Lancet, salah satu jurnal medis terpercaya, telah menerbitkan hasil uji klinis fase III dari vaksin Rusia Sputnik V. Jurnal tersebut menyatakan bahwa pengobatan dua dosis Sputnik V yang diberikan dalam selang waktu 21 hari menunjukkan efikasi 91,6% melawan Covid-19. Sputnik V menghasilkan respons imun yang kuat pada humoral dan sel.

Sementara itu, data terbaru menunjukkan efikasi Sputnik adalah 97,6 %, berdasarkan analisis data mengenai tingkat infeksi virus korona pada 3,8 juta orang Rusia yang telah divaksinasi dengan kedua komponen Sputnik V pada periode 5 Desember 2020 hingga 31 Maret 2021.

Meski demikian, keamanan dan kemanjuran merupakan aspek utama yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia dalam memilih vaksin baru untuk Indonesia.Penyimpanan dan logistik adalah dua tantangan utama di Indonesia dan sangat sedikit vaksin yang memenuhi kondisi di Indonesia. 

Sputnik V tersedia dalam dua bentuk: cair, yang dapat disimpan pada suhu -18°C, dan diliofilisasi (freeze dried), yang dapat disimpan pada suhu 2°C hingga 8°C. Bentuk liofilisasi ini dikembangkan mengingat kendala transportasi ke tempat-tempat terpencil.

Sputnik V telah disetujui penggunaannya oleh 63 negara dengan total populasi lebih dari 3,2 miliar orang. Sputnik V menempati urutan kedua di antara vaksin virus korona secara global dalam hal jumlah persetujuan yang dikeluarkan oleh regulator pemerintah. 

Vaksin Sputnik V kini masih dalam penelitian BPOM untuk bisa diterbitkan izin penggunaan daruratnya, sementara Sinopharm diketahui sudah mendapatkan EUA untuk digunakan dalam vaksinasi mandiri. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT