02 May 2021, 05:15 WIB

Perintah dan Keutamaan Salat Jumat


Quraish Shihab | Humaniora

SURAH Al Jumuah berjumlah 11 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyyah, surah ke-62 dalam Alquran dan diturunkan sesudah surat As Shaff. Nama surat Al Jumu’ah diambil dari kata Al Jumu’ah yang terdapat pada ayat 9 surat ini yang artinya hari Jumat.

Dalam surah ini, terdapat dalil diwajibkannya salat Jumat bagi para laki-laki yang sudah akil balig. Tepatnya pada ayat ke-9.

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diserukan untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui," begitu bunyinya.

Jumat diambil dari kata jamaah atau menghimpun. Sebab, hari Jumat merupakan hari saat diwajibkan bagi laki-laki muslim yang berdomisili di suatu tempat untuk berkumpul mendengar khotbah dan salat Jumat yang berfungsi mengantikan salat zuhur.

Oleh karena itu, khotbah Jumat berisikan ajakan penghimpunan, persatuan, dan menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan perpecahan dan perpisahan.

Sebelum ayat ini diturunkan, salat Jumat sudah lebih dulu dilakukan Nabi Muhammad SAW pada hari Senin 12 Rabiul Awal, saat tiba di Madinah dalam hijrahnya. Pada hari ke-5 Jumat, rombongan Rasul yang tengah berada dalam perjalanan memasuki hari Jumat dan berkumpul suatu lembah dan salat.

Apabila muazin mengumandangkan azan pada hari Jumat, kita diminta meninggalkan perniagaan dan bersegera ke masjid untuk mendengarkan khotbah dan salat Jumat, dengan cara yang wajar.

Janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa, tidak berlari-lari. Namun, datangilah salat dalam keadaan berjalan biasa penuh ketenangan sampai ke masjid.

Seandainya seseorang mengetahui betapa besar pahala yang akan diperoleh orang yang mengerjakan salat Jumat dengan baik, maka melaksanakan perintah Allah (memenuhi panggilan salat dan meninggalkan jual-beli) adalah lebih baik daripada tetap di tempat dan meneruskan usaha, untuk memperoleh keuntungan dunia.

Seusai melakukan salat Jumat, dalam ayat 10 Allah mengatakan, umat Islam boleh beraktivitas kembali di muka bumi untuk melaksanakan urusan duniawi dan mencari rezeki yang halal. Sebab, telah ditunaikan perintah yang bermanfaat untuk akhirat.

Dalam firman-Nya di ayat ke-11 surah ini, Allah mengingatkan, Dialah sebaik-baik pemberi rezeki. Maka, mintalah rezeki-Nya dengan senantiasa menaati-Nya.

Allah mencela dan mengecam mereka yang lebih memilih melihat perniagaan dan permainan yang menyenangkan, atau orang-orang mukmin yang lebih mementingkan kafilah dagang yang baru tiba, daripada Rasulullah. Sehingga mereka meninggalkan Nabi dalam keadaan berdiri berkhotbah.

Ayat ini ada hubungannya dengan peristiwa kedatangan Dihyah al-Kalbi dari Suriah, bersama rombongan untanya membawa barang dagangannya seperti tepung, gandum, minyak, dan lain-lainnya.

Menurut kebiasaan, apabila rombongan unta dagangan tiba, wanita-wanita muda keluar menyambutnya dengan menabuh gendang agar orang-orang datang berbelanja. (Fer/H-2)

BERITA TERKAIT