28 April 2021, 11:20 WIB

Pakar UGM Sebut Mutasi Covid-19 akan Terus Ada


Arga Sumantri | Humaniora

India mengidentifikasi adanya varian virus korona baru dengan tiga mutasi atau triple mutations. Varian yang dikenal dengan B1618 ini merupakan hasil evolusi dari mutasi ganda yang sebelumnya dikenal dengan varian B1617.
 
Ketua Pokja Genetik Fakultas  Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Gunadi menyebutkan mutasi covid-19 akan terus berlangsung. Ia pun mengimbau masyarakat tetap patuh menjalankan protokol kesehatan (prokes). Begitu pula usai menerima vaksin, masyarakat diminta untuk disiplin terhadap prokes, sebab risiko infeksi masih dapat terjadi.
 
"Mutasi virus tidak akan pernah selesai. Sifat mutasi ini perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu khawatir berlebihan dengan tetap menerapkan prokes," ujar Gunadi mengutip siaran pers UGM, (28/4).

Baca juga: Bank Sampah Tingkatkan Ekonomi Keluarga Penerima Manfaat PKH

Dosen FK-KMK UGM ini menjelaskan varian corona baru dengan dua atau tiga mutasi dari India sampai saat ini belum terdeteksi di Indonesia menurut data GISAID. Namun, lanjutnya, bisa saja akan muncul di Tanah Air karena sebelumnya varian Inggris B117 juga sudah terdeteksi di Indonesia.
 
Faktor mobilitas yang tinggi dan rendahnya penerapan prokes di masyarakat memperbesar peluang transmisi virus corona varian baru ini. Supaya di Indonesia tidak terjadi seperti di India, maka perlu disiplin terhadap prokes.
 
"Meski sudah divaksin jangan lantas longgarkan prokes karena masih bisa terinfeksi," terangnya.

Baca juga: Badan POM Dampingi 15 Riset Herbal Covid-19 termasuk VCO

Ia mengatakan saat ini belum ada studi atau penelitian terhadap tripel mutasi. Namun, yang perlu diwaspadai dari varian B1618 ini adalah mengandung tiga mutasi pada receptor binding domain (RBD) protein S yang berikatan langsung dengan sel inang manusia yaitu E484Q, L452R, dan V382L.

Mutasi E484Q terletak pada lokasi yang sama dengan mutasi E484K yang dideteksi pada varian Afrika Selatan dan Brasil sehingga mutasi E484Q diduga mempunya sifat yang sama dengan E484K yaitu bisa menghindari sistem kekebalan tubuh manusia.
 
"Saat ini belum ada bukti penelitian yang menunjukkan bahwa varian B1617 maupun B1618 memengaruhi kecepatan transmisi/penularan, keparahan penyakit covid-19 serta efektivitas vaksin," paparnya. (H-3)

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT