28 April 2021, 07:05 WIB

Dua Penyebab Gempa Bumi Sebabkan Kerusakan Masif


Zubaedah Hanum | Humaniora

GEMPA bumi mengguncang Kabupaten Malang dan sekitarnya di Jawa Timur pada Sabtu (10/4). Gempa Magnitude 6,1 ini bahkan dirasakan bahkan sampai ke Yogyakarta. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut berjarak 96 kilometer dari Kepanjen, Kabupaten Malang, berjenis menengah akibat aktivitas subduksi dengan mekanisme pergerakan naik.

BPBD Kabupaten Malang mencatat gempa telah menyebabkan 10.482 rumah rusak dengan kategori ringan, sedang, dan berat. Kerusakan masif terjadi di 32 kecamatan. Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengatakan, ada dua penyebab mengapa gempa dengan intensitas kerusakan sebesar itu bisa menimbulkan dampak yang masif.

Diungkapkannya, ada dua kemungkinan yang bisa menyebabkannya, yaitu pertama, intensitas gempa nyatanya lebih besar atau kedua, konstruksi bangunan di Indonesia belum cukup kuat untuk menghadapi gempa tersebut. "Ini masih perlu dicari tahu lebih lanjut," katanya dalam bincang-bincang podcast seperti dilansir dari laman ITB.

Dengan menggunakan jaringan pengamatan seismik yang telah dimiliki, imbuhnya, sebetulnya ada cara yang mudah untuk memperkirakan apakah gempa tersebut berpotensi memicu tsunami atau tidak.

Akan tetapi, sambung Irwan, persoalan yang dihadapi Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Hal ini mengakibatkan bencana terjadi duluan sebelum imbauan evakuasi dini sampai kepada masyarakat seperti gempa di Palu yang lalu.

“Ini yang patut dievaluasi sebab Indonesia sudah cukup baik dalam mendeteksi lokasi gempa dan kenaikan muka air laut, tetapi mekanisme kebencanaan belum berada di level yang sama,” tambahnya.

Saat ini, lanjut alumnus Nagoya University, Jepang itu, sejumlah peneliti pada bidang ilmu kebumian telah berkontribusi dalam mekanisme kebencanaan dengan menghasilkan Indonesia Seismic Hazard Map atau Peta Potensi Gempa di Indonesia. Peta ini dapat menjelaskan lokasi-lokasi di Indonesia yang berpotensi mengalami gempa, ini juga menjadi dasar penjelasan secara ilmiah mengapa gempa di Malang dengan kekuatan dan kedalaman tersebut dapat terasa sampai daerah lain.

Ia berharap peta tersebut dapat terus dikembangkan sehingga kelak dapat menjelaskan tidak hanya potensi gempa, tetapi juga potensi kerusakan dan kerugiannya. Tentunya, butuh kerja sama multidisiplin untuk mewujudkan hal tersebut.

Dengan terus dikembangkannya kerja sama multidisiplin, katanya, diharapkan mekanisme kebencanaan di Indonesia dapat terus diperbaiki. Misalnya dengan membangun posko mekanisme bencana oleh masyarakat setempat sehingga penyampaian informasi dapat tersalurkan secara baik, mengubah pandangan masyarakat terhadap risiko bencana agar lebih sigap dan tanggap, serta membuat peta risiko bencana. (H-2)

BERITA TERKAIT