27 April 2021, 12:34 WIB

Bahan Terbatas jadi Kendala Deteksi Mutasi Covid-19


Atalya Puspa | Humaniora

WHOLE Genome Sequencing (WGS) terus digencarkan oleh pemerintah agar lebih cepat menemukan varian baru yang masuk ke Indonesia. Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan menggaet sejumlah pihak yang berkompeten untuk melakukan WGS, salah satunya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI Wien Kusharyoto mengungkapkan, pengumpulan data WGS yang dilakukan LIPI masih menemui kendala, yakni terbatasnya bahan-bahan untuk melakukan WGS.

"Kendala yang dihadapi terutama dalam proses pengadaan bahan-bahan untuk WGS. Karena bahan-bahan tersebut sampai saat ini masih harus impor," kata Wien saat dihubungi, Selasa (27/4).

Padahal, katanya, LIPI telah memiliki kapasitas yang memadai dalam melakukan WGS. Dikatakan Wien pihaknya sebenarnya bisa memeriksa sebanyak 24 - 48 sampel perminggu.

"Tapi saat ini sejak tahun lalu baru 77 hasil WGS yang sudah disampaikan LIPI," ucapnya.

baca juga: Mutasi covid-19

Dihubungi terpisah, Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan mengatakan lambatnya pengumpulan data WGS di Indonesia yang cenderung lamban menjadi tantangan tersendiri. Ia menyatakan, laporan terkait adanya mutasi di Indonesia membutuhkan waktu lama, sehingga saat data tersebut keluar timing untuk memperbaharui kebijakan sudah tidak tepat lagi.

"Untuk itu perlu peningkatan kapasitas WGS disertai prioritas pengambilan sampel berdasarkan rekomendasi atau prioritas epidemiologi," ucapnya.

Seperti diketahui, pemerintah tengah menggencarkan pengumpulan data WGS sejak awal tahun 2021. Berdasarkan data yang diakses dari laman GISAID, sejak Maret 2020 hingga 23 April 2021 Indonesia telah berhasil memetakan sebanyak 1.531 data genome sequencing. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT