16 April 2021, 12:05 WIB

Karena Menonton di Bioskop Sensasinya Tak Tergantikan


Iis Zatnika | Humaniora

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengajak kalangan perfilman untuk bersiap memproduksi film-film bertema optimisme untuk menyambut kebangkitan Indonesia pascapandemi. Selain untuk menumbuhkan semangat masyarakat, film-film bertema positif itu diharapkan akan mengembalikan penonton ke bioskop.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengajak kalangan perfilman untuk bersiap memproduksi film-film bertema optimisme untuk menyambut kebangkitan Indonesia pasca pandemi. Selain untuk menumbuhkan semangat masyarakat, film-film bertema positif itu diharapkan akan mengembalikan penonton ke bioskop.

Sandiaga mengungkapkan hal itu dalam acara nonton bareng film Kartini Princess of Java pada Senin (12/4) di Metropole XXI, Komplek Megaria, Jakarta Pusat.

"Seperti yang dilakukan di Hollywood pada era great despression pada 1830, muncul gerakan itu. Film menjadi bagian dari gerakan kebangkitan nasional,” ujar Sandiaga.

Sandiaga juga mengajak masyarakat untuk kembali mendatangi bioskop untuk menikmati karya-karya sineas dalam negeri, juga untuk membantu kebangkitan industri film dalam negeri. Bioskop kini telah dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat, termasuk pengaturan jarak penonton.

“Bisa diperhitungkan untuk ngabuburit di bioskop, mari kita bantu industri film nasional kita yang cukup terpukul. Bayangkan, pada 2019 bisa mencapai 52 juta penonton, kini hanya 200 ribu pada awal 2021. Hindari pula nonton film bajakan karena nilai kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai Rp15 triliun,” kata Sandiaga.

Sandiaga juga menyatakan, pihaknya  telah menyiapkan stimulus untuk para pelaku industri perfilman, termasuk bioskop dan produser film, melengkapi kebijakan insentif pajak yang dilakukan sejumlah pemerintah daerah, termasuk DKI Jakarta.

Sutradara yang juga produser Hanung Bramantyo menyatakan dukungan khusus bagi kalangan perfilman nasional ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi kemandegan produksi yang terjadi. “Sekali produksi kami bisa melibatkan 100 orang hingga 300 orang dan selama pandemi ini tenaga kerja itu tidak bekerja maksimal,” kata Hanung.  

Hal senada juga diungkapkan Manoj Punjabi pemilik MD Picture yang menyatakan karena pandemi, sebagian produksinya dialihkan untuk ditayangkan di platform over the top (OTT) layanan penayangan berbasis internet. Namun, secara hitung-hitungan bisnis dan sensasi menonton, maka bioskop tetap menjadi prioritas ketika situasi telah memungkinkan.

“MD punya stok 30 film, dan 20 telah kami tayangkan di OTT. Misalnya untuk film KKN di Desa Penari, kami menghabiskan Rp20 miliar sehingga minimal penonton yang diharapkan mencapai 2 hingga 3 juta pentonton. Sehingga kami sangat berhitung saat memutuskan untuk menayangkan di bioskop, salah satunya film Asih yang kami percaya kondisinya lebih baik karena sudah menjadi merek yang kuat,” kata Manoj.

Sementara, Head of Corporate Communication & Brand Management Cinema XXI Dewinta Hutagaol menyatakan pihaknya mendiskon tiket hingga 50%, sehingga tiket menonton di jaringan XXI kini mulai Rp40ribu. “Kami lebih dalam posisi mendorong masyarakat untuk mencoba dulu, untuk datang kembali ke bioskop. Setelah merasakan bahwa semuanya aman dan nyaman, semoga mereka bisa datang kembali,” ujar Dewinta.  (X-6)

BERITA TERKAIT