16 April 2021, 05:35 WIB

Tolak Bala para Nabi


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal | Humaniora

NABI sebagai pesuruh dan kekasih Allah SWT selalu berada dalam perlindungan-Nya. Ketika Nabi Nuh menghadapi banjir tsunami paling dahsyat, ia bersama umatnya diselamatkan di atas perahunya cukup dengan membaca: Bismillahi majraha wa mursaha (Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya/QS Hud/11:41).

Perahu Nabi Nuh melaju dengan tenang. Mereka semua pun selamat sampai mendarat kembali ke bumi seusai banjir menenggelamkan bumi.

Nabi Ibrahim selamat setelah dilemparkan ke dalam lautan api oleh Raja Namrud, hanya dengan membaca: Ya naru kuni bardan wa salaman ‘ala Ibrahim (Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim/QS al-Anbiya’/21:69).

Nabi Ibrahim keluar dari bara api tanpa sedikit pun badan dan pakaiannya terjilat api. Malah, Raja Namurud dan kaumnya yang keringatan dan kepanasan menyaksikan keajaiban itu.

Nabi Daud Ketika ia ditombak dan diparangi oleh raja yang zalim bersama kaumnya, besi mengatakan tidak mungkin aku melukai sahabatku dan kekasih Tuhanku. Besi lalu melunak kepada Nabi Daud. Keajaiban itu terjadi karena konsistensi amal saleh yang dilakukan Nabi Daud (QS Saba’/34:10-11).

Ketika perahu yang ditumpangi Nabi Yunus kelebihan muatan dan terancam akan karam, nakhoda memutuskan untuk mengorbankan salah seorang penumpang. Yang naik undian untuk dilontarkan ke laut ialah Nabi Yunus.

Diulangi pengundian sampai tiga kali, tetap Nabi Yunus yang naik. Akhirnya Nabi Yunus pasrah untuk dilemparkan di laut.

Yang terjadi selanjutnya, ikan-ikan raksasa di tengah laut berebutan menyelamatkan Nabi Yunus dengan mengatakan tidak mungkin kami membiarkan sahabat kami dan kekasih Tuhan tenggelam di dasar laut.

Ikan-ikan raksasa itu menyelamatkan Nabi Yunus ke pantai dalam keadaan selamat. Kekukuhan iman Nabi Yunus menyelamatkannya dari musibah (QS Yunus/10:98).

Ketika Raja Tsamud mencapai puncak kejengkelannya kepada Nabi Shaleh, sang raja menantang Nabi Shaleh, kalau bisa mengeluarkan seekor unta betina dari lubang batu sempit, dia bersama kaumnya akan mengikuti agama baru yang dibawanya. Atas izin Allah, tiba-tiba seekor unta betina raksasa meloncat dari lubang kecil.

Bukannya percaya dan sadar, Raja Tsamud dan kaumnya malah beramai-ramai menyembelih dan menyate unta itu dengan angkuh. Yang terjadi berikutnya, pada hari pertama semua orang yang makan daging unta tersebut berubah kulitnya menjadi kuning. Kemudian di hari kedua berubah menjadi merah darah, dan di hari ketiga menjadi hitam, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah masing-masing.

Nabi Shaleh dan umat setianya hadir di sekitar itu, tetapi selamat. Mereka tak terganggu dengan virus antraks yang ditularkan melalui daging unta misterius tadi (QS al-A’raf/77-79).

Ketika pasukan Abrahah berusaha untuk menghancurkan Ka’bah, ia meminggirkan kakek Nabi, Abdul Muthalib, sebagai penjaga Ka’bah Allah. Ia mengatakan, jika ingin selamat, jauhi tempat di sekitar Ka’bah ini.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba muncul serangga yang membawa virus yang menghancurkan pasukan Abrahah yang dilukiskan dalam Alquran Surah al-Fil: “Lalu Allah menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” Sangat mengerikan virus ini.

Tolak bala dalam arti menghindarkan dari marabahaya dan musibah melalui ikhtiar manusia dicontohkan dalam sejarah. Bukan hanya orang awam, para wali dan nabi pun melakukan ikhtiar untuk menolak bala itu. Di tengah covid-19 yang mengintai di sekitar kita, perlu juga kita melakukan ikhtiar khusus (divine effort) untuk menyelamatkan diri kepada-Nya. Allahu a’lam.

 

 

BERITA TERKAIT