11 April 2021, 00:10 WIB

Tokoh Lintas Agama Diajak Buat Program Cegah Paham Radikal


mediaindonesia.com | Humaniora

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengajak tokoh lintas agama membuat program  membangun daya imunitas dan kekebalan bangsa untuk menghadapi paham radikal terorisme.
 
"BNPT meyakini bahwa para tokoh semuanya yang hadir ini merupakan 'guru', pencerah bagi para umat di lingkungan agamanya masing-masing. Tentu menjadi kewajiban kita bersama menjaga imunitas bangsa dari berbagai pengaruh-pengaruh virus yang membahayakan umat," ujar Boy Rafli di Jakarta, Sabtu (10/4).
 
Hal ini diungkapkan mantan Kapolda Papua ini saat acara Dialog Kebangsaan bersama Gugus Tugas Pemuka Agama yang tergabung Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) yang juga menghadirkan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di lokasi rencana berdirinya Taman Miniatur 99 Masjid Dunia yang dikelola Yayasan Amanah Kita, di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/4) malam.
 
Dalam acara itu, Boy Rafli mengatakan bahwa pertemuan dengan para tokoh lintas agama dilaksanakan untuk bersama-sama melaksanakan program membangun daya imunitas dan kekebalan bangsa untuk menghadapi berbagai macam virus seperti virus radikalisme yang menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia.
 
Karena itu, katanya, sangat penting melakukan silaturahim dengan para tokoh lintas agama yang tergabung dalam LPOK ini. Dia menyampaikan bahwa berkaitan dengan tugas BNPT, yang menjadi konsentrasi ialah virus yang disebarluaskan oleh pihak-pihak yang mengusung ideologi terorisme.


Baca juga: Bersyukur dan Bertakwa Itu Mudah Dikatakan Tapi Sulit Dilakukan

 
Ia menyebut ideologi terorisme ini karakteristiknya yaitu intoleran, antikemanusiaan, memanipulasi teks-teks ajaran agama, termasuk juga mudah menyalahkan pihak-pihak lain yang tidak sejalan pemikirannya dengan dia dan kecenderungannya bahkan melakukan yang bersifat destruktif.
 
Anggota Wantimpres Habib Muhammad Luthfi bin Yahya menyampaikan tidak mungkin BNPT dapat bekerja sendiri dalam pencegahan paham radikalisme ini, sehingga perlu masukan para tokoh lintas agama untuk memikirkan generasi penerus bangsa menjadi pembangun-pembangun bangsa.
 
Menurut Habib Luthfi, menjadi PR bersama untuk mencegah pengaruh-pengaruh yang akan melenturkan nasionalisme yang ada di republik tercinta ini.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut para perwakilan dari seluruh ormas keagamaan itu, yakni Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad al Islamiyah, Ittihadiyah, Persatuan Tarbiyah islamiyah (Perti), Mathlaul Anwar (MA), Az Zikra, Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Syarikat Islam Indonesia, Al Washliyah, Persatuan Umat Islam, Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI), Nahdlatul Wathan, serta dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).   

Selain itu hadir juga perwakilan dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin). (Ant/S-2)

BERITA TERKAIT