08 April 2021, 20:33 WIB

Soal Kepastian Haji, Kemenag Menunggu Kabar dari Arab Saudi


Faustinus Nua | Humaniora

KEMENTERIAN Agama RI masih menunggu kepastian penyelenggaraan Ibadah Haji 2021 dari otoritas Arab Saudi. Pasalnya, sejauh ini belum ada keputusan resmi dari Saudi terkait penyelenggaraan Ibadah Haji di tahun kedua pandemi.

Meski demikian, Kemenag tetap melakukan berbagai persiapan menjelang Ibadah Haji. Mulai dari jumlah kuota jemaah yang direncakan akan diberangkatkan hingga pada penerapan protokol kesehatan.

"Sebagai bentuk persiapan pemerintah dalam penyelenggaraan Ibadah Haji, saat ini sedang dilakukan vaksinasi terhadap jemaah calon haji di seluruh Indonesia," ungkap Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Kamis (8/4).

Dijelaskan untuk vaksinasi Kemenag berkoodinasi dengan Kementerian Kesehatan. Ditargetkan vaksinasi untuk 57.630 jemaah lansia tuntas hingga pertengahan Mei. Kemudian jemaah lainnya akan divaksinasi secara bertahap sebelum musim haji dimulai pada 15 Juni.

Baca juga: Kemenag Ajukan Tambahan Anggaran Rp1,3 Triliun

"Harus selesai vaksinasi tahap satu paling lambat Maret 2021 dan tahap dua paling lambat minggu kedua Mei 2021," imbuhnya.

Selain vaksinasi, Kemenag juga mempersiapkan protokol kesehatan lainnya seperti karantina. Menav mengatakan sebelum keberangkatan dan setelah tiba di tanah air akan dilakukan karantina selama tiga hari. "Karantina akan memaksimalkan asrama haji dan hotel di sekitarnya," tambahnya.

Di Tanah Suci, Kemenag mendukung layanan kepada para jemaah. Pihaknya tengah memproses izin untuk memberangkatkan tim akomodasi, transportasi, dan katering ke Arab Saudi.

"Mekanismenya tentu saja akan menyesuaikan dengan ketentuan Arab Saudi misalnya kapasitas jemaah per kamar, protokol kesehatan di transportasi perhajian, serta skema penyajian makanan jemaah," kata dia.

Lebih lanjut, Yaqut menjelaskan bahwa sembari menanti kabar dari Saudi, pihaknya menyiapkan skenario kuota jemaah haji. Kuota yang dipersiapkan mulai dari 30%, 25%, 20%, 10%, hingga 5%. Menurutnya, masih sulit untuk memenuhi kuota 100% atau 50% di masa krisis ini.(OL-4)

BERITA TERKAIT