08 April 2021, 16:44 WIB

Menkes: Embargo Penyebab Kedatangan 100 Juta Vaksin Terhambat


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

MENTERI Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa jadwal kedatangan 100 juta dosis vaksin Covid-19 menjadi tidak pasti dan jadwal kedatangannya terhambat menyusul adanya kebijakan embargo di beberapa negara.

"Jadi, ada 100 juta dosis vaksin yang sampai sekarang menjadi agak tidak pasti jadwalnya," kata Menkes Budi dalam rapat kerja bersama dengan DPR, Kamis (8/4).

Menurut Menkes, 100 juta dosis vaksin yang terganggu didatangkan melalui dua mekanisme, yaitu melalui multilateral dengan GAVI sebanyak 54 juta secara gratis. Kedua, vaksin Astrazeneca yang didatangkan dengan mekanisme bilateral melalui Bio Farma dan Astrazeneca sebanyak 50 juta.

Dimana GAVI adalah sebuah aliansi vaksin internasional yang menyediakan vaksin gratis bagi negara-negara yang memenuhi syarat. Sebut Menkes Budi, pertama kali bermasalah yakni pengadaan Covax GAVI lantaran ada embargo dari India.

"Karena suplai vaksin dari India mengalami hambatan, GAVI pun melakukan realokasi," sebutnya.

Dia menambahkan Indonesia yang seharusnya menerima 11 juta vaksin pada Maret-April, Namun, hanya mendapat 1 juta. Sisanya diundur pada Mei 2021.

"Mereka juga belum bisa memberikan konfirmasi. Karena itu menjadi tidak pasti," paparnya.

Menkes mengaku pihaknya juga mendapatkan informasi bahwa vaksin Astrazeneca dengan mekanisme bilateral berubah.

"Informasi terakhir yang kami terima dari Astrazeneca, yang tadinya rencananya semuanya dilakukan di 2021, mereka menyampaikan bahwa hanya bisa 20 juta vaksin di 2021 dan diundurkan 30 juta vaksin pada 2022," lanjutnya.

Menkes Budi juga menerangkan bahwa dari 160-an negara di dunia, hanya ada lima negara yang memproduksi vaksinnya sendiri yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, India, Inggris, dan Rusia.

"Beberapa negara ini menerapkan kebijakan untuk tidak mengeluarkan vaksin yang diproduksi di negaranya. Jadi kalau kita lihat sebenarnya yang rebutan vaksin adalah semua negara dikurangi 5 negara itu," pungkasnya.

Diketahui negara-negara Eropa dan beberapa negara di Asia seperti India, Filipina, Papua Nugini, serta beberapa negara di Amerika Selatan seperti Brasil, mengalami lonjakan ketiga dari kasus aktif Covid-19.

Sehingga negara-negara yang memproduksi vaksin Covid-19 di lokasi tersebut mengarahkan agar produksi vaksinnya tidak diekspor atau embargo dan hanya boleh dipakai di negara masing-masing. (Fer/OL-09)

BERITA TERKAIT