08 April 2021, 13:16 WIB

LAPAN Ungkap Analisis Dampak Banjir Bandang dan Longsor di NTT


 Faustinus Nua | Humaniora

TIM Tanggap Darurat Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisis daerah terdampak bencana banjir sebagai respon terhadap bencana banjir dan longsor yang terjadi di NTT, khususnya di Flores Timur pada Minggu 4 April 2021.

"Analisis dilakukan menggunakan data citra Pleiades 23 April 2020 untuk mendeteksi wilayah potensi terdampak," tulis tim tanggap darurat bencana LAPAN di akun instgram LAPAN, Kamis (8/4).

Dibeberkan, hasil yang didapatkan, menunjukkan Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, terletak di kaki Gunung api Ile Boleng dengan ketinggian antara 140 -300 mdpl. Desa Nelelamadike beriklim tropis dengan rata-rata kemarau yang panjang sehingga vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut sangat jarang.

Terdapat alur sungai yang melewati Desa Nelelamadike, akan tetapi jarang terdapat aliran air mengingat daerah tersebut memiliki kemarau yang panjang.

Di sekitar alur sungai juga teramati banyak permukiman penduduk sehingga berpotensi terdampak luapan banjir apabila terjadi curah hujan yang sangat tinggi (daerah yang diberi lingkaran putus-putus berwarna merah).

"Lokasi desa Nelelamadike pada area lereng gunung yang terjal/curam dengan sedikitnya vegetasi di daerah tersebut berpotensi untuk terjadinya bencana longsor," kata LAPAN.

Dilaporkan, di Desa Nelelamadike tercatat 56 warga yang menjadi korban akibat banjir bandang. Sementara 758 warga desa yang lain harus mengungsi. Mereka tersebar di beberapa tempat di Pulau Adonara. Sebagian besarnya di desa-desa tetangga di wilayah Ile Boleng.

Sebelumnya BMKG melaporkan bahwa bencana di NTT disebabkan oleh siklon tropis seroja. Badai tropis itu telah memicu banjir bandang, tingginya intensitas hujan yang disertai petir dan angin kencang.(Van/OL-09)

BERITA TERKAIT