07 April 2021, 16:30 WIB

Dorong Masyarakat Jaga Kesehatan Tulang, Sendi, dan Otot


Mediaindonesia.com | Humaniora

MASIH banyak mungkin orang yang belum sadar bahwa tulang, sendi, dan otot merupakan bagian penting dari tubuh. Jika satu dari ketiga bagian itu yang bermasalah bisa dipastikan seluruh tubuh akan sakit.
 
Itu sebabnya dalam rangka Hari Aktivitas Fisik dan Hari Kesehatan Dunia, Fonterra Brands Indonesia melalui brand Anlene, bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), mengedukasi dan mendorong masyarakat baik dewasa maupun lansia agar tetap rutin beraktivitas fisik, konsumsi nutrisi seimbang dan deteksi dini.

Baca juga: PPKM Diberlakukan, Desa Siaga Covid-19 Sumsel Diaktifkan Kembali

Gaya hidup sehat harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan dan salah satu upaya untuk mendapatkan kualitas hidup lebih baik melalui bidang kesehatan.  Hal itu diungkapkan Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI, dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes.

“Menurut WHO, 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 33,5% masyarakat kurang aktivitas fisik. Hasil pengukuran kebugaran jasmani yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada ASN, masyarakat umum dan calon jemaah haji menunjukkan bahwa sekitar 45% tingkat kebugaran jasmani yang masih kurang dan sebesar 44% dalam kategori berat badan overweight dan obesitas. Tingkat kebugaran erat kaitannya dengan aktivitas fisik karena orang yang cukup melakukan aktivitas fisik maka tingkat kebugarannya akan baik," papar dr Riskiyana

Dalam situasi pandemi covid-19 masyarakat memang dianjurkan menjalani aktivitas dari rumah saja. Namun hal ini memicu gaya hidup sedentari dan kurang aktivitas fisik. Padahal gaya hidup sedentari berisiko menyebabkan penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. "Meskipun dalam situasi pandemi, perilaku hidup sehat aktif harus tetap dilakukan karena investasi kesehatan jantung, paru dan termasuk juga kesehatan tulang, sendi, otot sejak usia dini penting untuk kesejahteraan secara menyeluruh di setiap tahapan kehidupan.”

“Indonesia berkomitmen untuk mendukung GAPPA (Global Action Plan for Physical Activity) melalui Rencana Aksi Nasional Pembudayaan Aktivitas Fisik  dengan target terjadi penurunan jumlah masyarakat di Indonesia yang  kurang aktivitas fisik menjadi 28,5 % pada tahun 2035. Upaya ini tentu melibatkan lintas sektor terkait dan tenaga kesehatan yang ada,” lanjutnya

“Sejak tahun 2017, pemerintah Indonesia telah menginisiasi GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) untuk mendorong masyarakat Indonesia agar rutin melakukan aktivitas fisik, menerapkan perilaku hidup sehat, pola makan gizi seimbang dan deteksi dini penyakit. Untuk melawan gaya hidup sedentari, disarankan untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari 3 sampai 5 kali per minggu. Aktivitas fisik untuk melawan gaya hidup sedentari dapat dilakukan di mana saja, termasuk saat di rumah saja selama pandemi."

"Dalam upaya meningkatkan aktivitas fisik masyarakat di masa pandemi , Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan aplikasi SIPGAR untuk melakukan pengukuran kebugaran jasmani mandiri, program penurunan obesitas melalui Weight Loss Challenge (WLC) serta beberapa upaya edukasi  kelompok olahraga dan masyarakat umum terkait peningkatan aktivitas fisik melalui webinar, pelatihan bagi tenaga kesehatan secara daring, sejumlah kompetisi olahraga virtual,  senam virtual, dan  beberapa rangkaian acara dalam rangka Hari Aktivitas Fisik Sedunia,” cetus dr. Riskiyana.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) dr. Bagus Putu Putra Suryana, SpPD-KR  mengatakan bahwa menurut penelitian, lansia yang aktif secara fisik,  memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular, kanker payudara dan prostat, patah tulang, jatuh berulang, cacat ADL (Activity Daily Living), keterbatasan fungsional dan penurunan kognitif. Mereka juga mengalami proses penuaan yang lebih sehat, kualitas hidup yang lebih baik, dan peningkatan fungsi kognitif.

"Dalam penelitian lain menjelaskan bahwa masyarakat yang berolahraga rata-rata 92 menit per minggu atau 15 menit sehari, memiliki penurunan risiko penyebab kematian secara keseluruhan sebesar 14%, dan memiliki harapan hidup 3 tahun lebih lama," paparnya.

“Seseorang harus aktif melakukan aktivitas fisik sejak dini serta konsumsi asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, sebagai investasi agar tulang cukup padat dan tetap optimal hingga hari tua. Kurang bergerak (sedentari), kurang latihan fisik, atau olahraga tidak teratur juga akan mengurangi tekanan pada tulang sehingga mengurangi pembentukan tulang baru dan berakibat meningkatkan risiko tulang keropos atau osteoporosis,” imbuhnya.

Sementara itu, Marketing Manager Anlene, Fonterra Brands Indonesia, Rhesya Agustine mengatakan, selama lebih dari 20 tahun pihaknya bersama Kemenkes dan PEROSI selalu aktif mengedukasi masyarakat tentang kesehatan tulang, sendi, dan otot, termasuk kampanye ‘Ayo Indonesia Bergerak’ yang diluncurkan pada 2018 untuk mendukung program pemerintah melawan sedentari. Sejak awal pandemi, mereka juga selalu mendampingi masyarakat untuk tetap aktif bergerak di rumah melalui serangkaian kegiatan virtual.

Ketua dan Pendiri Komunitas Lansia Sejahtera Surabaya, dr. Siti Pariani, MS., MSc., PhD., FISPH, FISCM, menambahkan aktivitas fisik dan olahraga penting untuk tetap dilakukan di bulan puasa, untuk mencegah tulang keropos (osteoporosis), membuat tulang menjadi lebih kuat, mengurangi risiko patah tulang, hingga memastikan tulang mendapatkan nutrisi yang baik. "Jika tidak melakukan aktivitas fisik, kepadatan tulang akan terus berkurang seiring bertambahnya usia, selain itu otot jadi lembek dan kecil dan sendi menjadi kaku karena tidak digerakkan. Aktivitas fisik untuk lansia bisa tetap dilakukan selama berpuasa di bulan Ramadhan dengan intensitas sedang.”

Kunci untuk mencegah tulang keropos atau osteoporosis adalah dengan gaya hidup sehat aktif dan memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Protein, kalsium, dan vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, sendi, dan otot. Semua bisa didapati dari makanan  dan minuman sehari-hari seperti daging ayam dan telur untuk protein tinggi, atau tahu dan segelas susu yang merupakan sumber kalsium dan vitamin D. Hindari konsumsi alkohol, merokok, atau terlalu banyak minum kopi dan soda agar penyerapan kalsium dan pembentukan tulang baru berlangsung optimal dalam tubuh.

“Anlene sebagai ahli nutrisi tulang berkomitmen untuk mendukung kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan menyediakan nutrisi susu berkualitas tinggi,” cetus Rhesya Agustine. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT