05 April 2021, 22:15 WIB

BMKG: Suhu Samudera Hindia Naik Picu Banjir di NTT


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Humaniora

KEPALA Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan bahwa pihaknya telah memantau bibit siklon tropis di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 2 April 2021. Pasalnya, peringatan dini sudah dikeluarkan akan terjadinya cuaca ekstrim tersebut.

"Saat itu pada tanggal 2 April (2021), kami mendeteksi adanya potensi terbentuknya siklon tropis, jadi tanggal 2 itu masih potensi," papar Dwi dalam dalam jumpa pers virtual, Senin (5/4). 

Dwi menyebut, bencana ini diakibatkan beberapa faktor, di antaranya ialah suhu muka laut yang semakin tinggi di wilayah Samudra Hindia. Intinya, suhu di wilayah Samudera Hindia melebihi rata-rata, yakni mencapai 26,5 Celcius. Bahkan, data terakhir menunjukkan suhu mencapai 29 derajat Celcius.

Sebelumnya, korban tewas akibat banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini terus bertambah. Menteri Sosial, Tri Rismaharini mengatakan korban jiwa sejauh ini menjadi 86 orang. 

“Sementara total meninggal ada 86 korban jiwa,” ujar Risma dalam jumpa pers virtual, Senin (5/4). 

Risma menuturkan, Pemerintah akan memberikan santunan kepada seluruh korban sebesar Rp15 Juta. Kemudian, untuk korban luka sebanyak 27 jiwa akan diberi santunan oleh Pemerintah sebesar Rp5 juta. 

“Kami juga ikut mendata untuk kondisi rumah yang rusak, mana yang harus dibantu ataupun masih layak,” tuturnya. 

Untuk bantuan, lanjut Risma, sejauh ini sudah meluncur ke lokasi bencana. Sementara untuk di Bima, dan Alor sudah menerima bantuan sembako dan lainnya dari Pemerintah. Yang saat ini sedang proses pengiriman bantuan ialah ke Sumba Timur dan Ende. (Ykb/OL-09)

BERITA TERKAIT