30 March 2021, 19:24 WIB

Literasi Digital Wujudkan Penggunaan Medsos yang Bijak


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

DIGITALISASI mendorong perubahan perilaku di masyarakat dengan hadirnya sejumlah konten dan aplikasi yang makin beragam, termasuk media sosial. Diperlukan upaya terus-menerus untuk melakukan literasi digital agar tercipta ruang digital yang sehat.

Direktur jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pengerapan mengatakan, salah satu pilar penting dalam mendukung terwujudnya agenda transformasi digital adalah menciptakan masyarakat digital, di mana kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya.

“Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat, literasi digital merupakan kunci dan pondasi utama yang harus kita semua miliki. Pemerintah akan terus melakukan upaya meningkatkan literasi digital masyarakat lewat berbagai macam inisiatif kegiatan,” katanya dalam webinar Menjadi Pengguna Media Sosial Yang Bijak, Kreatif & Inovatif yang diselenggarakan Kemenkominfo serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Widyaprada Ahli Utama Kemendikbud Hurip Danu Ismadi mengatakan, penggunaan media sosial harus disikapi dengan bijaksana, kreatif, dan inovatif. Terutama di dalam abad disinformasi seperti sekarang di mana banyak terjadi dampak negatif dari informasi digital seperti berita bohong yang menyesatkan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

"Di dalam abad ke 21 ini yang kita butuhkan ada tiga hal, yang pertama tentu karakter yang harus dibangun secara kuat, yang kedua adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh anak-anak kita yang mencerminkan karakter bangsa kita, dan yang ketiga adalah pengembangan literasi agar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. 

Koordinator Gerakan #BijakBersosmed Enda Nasution mengatakan, salah satu kunci untuk bijak dan santun dalam bermedia sosial adalah dari segi pendidikan.

Baca juga : Investasi Pendidikan Tinggi Tidak Berhenti pada Masa Pandemi

Menurut Enda, hampir 200 juta pengguna internet di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perilaku, latar belakang, dan lokasi, sehingga sangat mungkin dan tidak mengherankan jika terjadi kesalahpahaman atau konflik horizontal terjadisaat bertemu di satu tempat atau platform.

“Dengan jumlah pengguna yang makin besar ini tentunya cara kita bernavigasi di dunia maya sangatlah penting agar tidak menimbulkan masalah terutama dari sisi pendidikan,” kata Enda.  

Menurutnya, saat ini tenaga pendidik dan peserta didik harus melakukan kegiatan secara daring artinya yang dulu tidak terbiasa, kini harus mulai menyesuaikan.

“Solusi terbaik yang bisa kita lakukan secara pribadi dan non-pribadi adalah dengan meningkatkan pemahaman akan ber-social media, lebih aware dengan apa yang terjadi, memiliki empati lebih terhadap apa yang disampaikan pada social media, dan menahan diri untuk tidak menyerang,” jelas Enda.

Digital Content Creator Zata Ligouw menegaskan, peran orang tua sangatlah penting dalam mengajarkan etika bermedia sosial pada anak. 

“Saat anak meminta untuk memiliki gadget dan media sosial sendiri yang utama harus dilakukan adalah lihat sisi kesiapannya, lalu sesuaikan dengan value keluarga, tetap di monitor namun beri ruang, dan terakhir relakan,” jelas Zata. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT