23 March 2021, 17:53 WIB

KLHK Prioritaskan 12 KPH Rawan Kebakaran


Atalya Puspa | Humaniora


KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memprioritaskan langkah pencegahan pada 12 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang rawan mengalami kebakaran selama 5 tahun terakhir.

"Berdasarkan analisis spasial dengan beberapa peta lapangan 12 KPH tersebut ada di 7 provinsi yang ada ekosistem gambut. Sudah diberikan instruksi kepada gubernur dan kepala dinas yang punya unit," kata Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Bambang Hendroyono dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR, Selasa (23/3).

Adapun, provinsi tersebut yakni tujuh provinsi yang memiliki ekosistem gambut. Yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Adapun, program pencegahan tersebut dilakukan dengan membuat program pencegahan karhutla berbasis tapak dengan menjadikan masyarakat sebagai ujung tombak dalam melakukan langkah pencegahan.

Baca Juga: Luas Lahan Gambut Terbakar di Aceh Mencapai 5,5 Hektare

"Bantuan sarana dengan total anggaran Rp8,93 miliar kepada 97 kelompok masyarakat mitra KPH. Alat yang diberikan berupa alat produksi HHBK, madu, gula aren, jambu mete, dan rotan," beber Bambang.

Selain itu, bantuan diberikan berupa sarana patroli, APD kebakaran, dan alat pemadam kebakaran portable.

Pada kesempatan tersebut, Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Karliansyah mengungkapkan, ekosistem gambut di Indonesia mencapai 24,6 juta hektare. Dengan luas tersebut, untuk mencegah kebakaran lahan, KLHK telah melakukan pemulihan sebanyak 9 ribu lahan gambut di desa masyarakat.

"Selain itu, kami dorong perusahan pemegang konsensi HTI sawit melakukan pemulihan 3,6 juta hektare lahan gambut. Lahan tersebut dikelola 294 perusahaan dan kini sudah terbasahi," jabarnya.

Adapun, berbagai upaya yang dilakukan KLHK untuk memulihkan lahan gambut berbuah hasil. Berdasarkan pemantauan KLHK, sejak 2015 hingga 2020 kebakaran lahan gambut menurun derastis, dari 2,6 juta hektare menjadi 296 ribu.

"Lahan yang kami intervensi sejak 2019 sampai saat ini tidak pernah terbakar," kata Karliansyah. "Selain itu, luasan lahan gambut yang kita basahkan bebas dari emisi metana dan dapat menekan reduksi emisi sebanyak 366 juta ton co2 ekivalen," pungkasnya. (Ata/OL-10)

BERITA TERKAIT