16 March 2021, 21:04 WIB

Jenis Plastik PET Punya Nilai Ekonomi Tinggi


Mediaindonesia.com | Humaniora

ADA tujuh jenis plastik berikut kodenya yang perlu diketahui. Jenis plastik umumnya dicantumkan di bagian bawah kemasan berupa logo segitiga berpanah dengan kode 1 hingga 7. Selain itu, tertera pula kode huruf yaitu PET atau PETE, HDPE, PVC atau V, LDPE, PP, PS, dan Other.

Berpedoman pada Resin Identification Code (RIC) yang diterbitkan oleh The Society of Plastic Industry (SPI) pada 1988 di Amerika Serikat, jenis plastik yang paling mudah didaur ulang yakni polyethylene terephthalate (PET) dengan kode angka 1. Ahli Teknologi Polimer dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia Mochamad Chalid mengatakan PET banyak digunakan sebagai bahan baku produk plastik, seperti kemasan botol dan galon air minum. Hal ini karena hasil daur ulang limbah plastik PET bisa dijadikan produk turunan yang baru, beragam, dan bisa dimanfaatkan kembali.

Chalid menyebut PET juga memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi karena kestabilan sifat-sifatnya, seperti berwarna jernih, ringan, serta mudah dibentuk, dan tidak mudah pecah. "Itulah alasan jenis plastik ini banyak dibutuhkan di industri daur ulang dan menjadi solusi yang efektif dalam menangani masalah tumpukan limbah plastik di Indonesia."

Mengingat jenis plastik tersebut paling bersahabat dengan tubuh kita dan alam, penggunaannya menjadi jawaban atas keinginan konsumen yang ingin mendapatkan kemasan lebih higienis, praktis, kedap udara, serta lebih aman dari pemalsuan, dan bebas dari bisphenol A (BPA). Selain itu, higienitas bahan PET terjamin keamanannya, baik dalam kondisi panas maupun dingin.

Dalam catatan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi), setiap tahun permintaan PET meningkat rata-rata 7%. "Industri daur ulang memerlukan sampah plastik PET dalam jumlah besar. Plastik sekali pakai tidak masalah apabila manajemen sirkular ekonomi dijalankan dengan baik," ujar Ketua Umum Adupi Christine Halim.

Hal itu juga sejalan dengan usaha pemerintah dalam mengurangi sampah plastik dengan keterliban semua pihak. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati, pengelolaan sampah membutuhkan komitmen semua pihak dan tidak mungkin diselesaikan hanya dengan satu pendekatan karena Indonesia merupakan negara besar.

"Tidak perlu diperdebatkan approach yang paling baik. Yang penting bisa membantu mengatasi masalah sampah plastik,” tandas Rosa.

Salah satu pengguna plastik PET yaitu PT Tirta Fresindo Jaya dengan produknya Le Minerale. Sustainability Director Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmadja mengatakan, pihaknya memastikan botol dan galon yang diproduksinya menggunakan jenis plastik PET. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlangsungan lingkungan. "Perusahaan menghargai lingkungan dan mendukung regulasi pemerintah yang sangat penting untuk masyarakat," ungkapnya.

Agar secara ekosistemnya berjalan baik, perusahaan juga mulai menggandeng sejumlah asosiasi seperti Adupi dan IPI (Ikatan Pemulung Indonesia) untuk penarikan botol dan galon berbahan PET dari lingkungan. Penarikan ini untuk diproses daur ulang yang akan mendukung realisasi program Sirkular Ekonomi Nasional.

"Bersinergi dalam pengelolaan plastik yang semula hanya dipandang sebelah mata menjadi pendatang rezeki dan berkah bagi masyarakat. Hal ini karena pengelolaan plastik PET dapat 100% didaur ulang menjadi barang baru dengan nilai tambah yang cukup tinggi," tutup Ronald. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT