12 March 2021, 19:05 WIB

Kemenristek Dorong Hilirisasi Riset Berbasis Ekonomi Sirkular


Faustinus Nua | Humaniora

Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) terus mendorong hilirisasi riset dan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang rendah karbon. Konsep tersebut dapat mendukung upaya pelestarian lingkungan di Indonesia.

Menritek Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa ekonomi sirkular berfokus pada penggunaan optimal dari sumber daya dalam aspek produksi hingga konsumsi. Konsep itu juga dapat menjadi solusi atas masalah sampah serta untuk memenuhi kebutuhan energi berbahan dasar limbah.

"Kita tidak hanya bisa memakai teknologi yang eksis, teknologi yang memang didedikasikan untuk menghilangkan sampahnya. Kita harus mendorong inovasi agar penerapan ekonomi sirkular ini benar-benar bisa tidak cuman menghilangkan sampahnya namun memberi manfaat kepada masyarakat. Pengertian eknomi sirkuler itu limbah yang tadinya residu diubah menjadi input baru," ungkapnya dalam webinar Inovasi dalam Ekonomi Sirkular dan Keterangan Publik Produk Inovasi Biokenversi, Jumat (12/3).

Baca juga: KLHK Komitmen Dorong Peran Rimbawan demi Terciptanya Hutan Lestari

Dalam kegiatan pengembangan riset dan inovasi terkait pembangunan rendah karbon lewat ekonomi sirkular, pemerintah mengusung prinsip use, return, and make. Konsep ekonomi sirkular pun sudah mulai diterapkan di Indonesia karena banyak manfaat yang dihasilkan dan berpotensi dalam mendorong substitusi impor di berbagai sektor.

"Konsep ekonomi sirkular bukan hanya mendesain model industri dengan prinsip zero waste, tetapi juga fokus terhadap faktor sosial dan penyediaan sumber daya maupun energi yang berkelanjutan," imbuhnya.

Menteri Bambang membeberkan penerapan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular sudah dilakakukan beberapa perusahaan. Misalnya lewat Aplikasi Rapel dari PT Wahana Anugerah Energi, sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dan telah dipilah menurut jenisnya oleh pemilik sampah dapat dijual lagi.

Kemudian, Pupuk Hayati Cair Biokonversi dari PT Bio Konversi Indonesia, yang melahirkan alternatif kebutuhan pupuk di Indonesia dan merupakan salah satu program Prioritas Riset Nasional (PRN) bidang Ketahanan Pangan. Ada juga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantar Gebang yang merupakan pilot project kerja sama Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dengan BPPT.

"Kita jadikan ekonomi sirkular sebagai mainstream dalam upaya kita untuk memitigasi perubahan iklim, menjadikan Indonesia lebih bersih dan menciptakan keseimbangan antara ekonomi, sosial dan ekologi. Sehingga akhirnya pengolahan sampah tidak lagi menjadi sesuatu yang menyusahkan, apalagi dihindari namun dilihat prospek bisnis yang menjanjikan di masa depan dan membantu pemeritah setempat membersihkan lingkungannya, serta memberikan manfaat masyarakat di sekitar," terangnya.

Sekretaris Kemenristek Mego Pinandito menyampaikan pengelolaan sampah berkelanjutan dalam melahirkan alternatif kebutuhan masyarakat merupakan bagian ekonomi sirkular. Hal itu tidak hanya memberi dampak pada lingkungan hidup tapi juga membantu ekonomi masyarakat.

"Dulu sampah hanya menjadi sampah saja atau waste to waste, maka sekarang juga dapat menjadi energi atau waste to energy. Pengolahan sampah bisa dikategorikan sebagai ekonomi sirkular, yaitu proses produksi yang tidak pernah berhenti dan berupaya menghasilkan zero waste," ucapnya..

Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Ismunandar mengungkapkan transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan dukungan lintas sektor jangka panjang. Kolaborasi sinergi tirple helix dan dukungan ekosistem inovasi sangat penting agar mendorong ide inovatif menjadi produk komersialisasi.

"Kemenristek/BRIN melakukan proses yang kita sebut tirple helix sebagai cara kerja kita. Jadi apapun yang kita lakukan itu adalah kolaborasi dari akademisi, pemerintah, dan industri," tutup Ismunandar. (H-3)

BERITA TERKAIT