10 March 2021, 13:25 WIB

UGM, UI, ITB Masuk 100 Besar Perguruan Tinggi Terbaik di Asia


Zubaedah Hanum | Humaniora

TIGA perguruan tinggi di Indonesia masuk di antara 100 besar perguruan tinggi terbaik di Asia dalam QS World University Rankings (WUR) 2021. Ketiganya ialah Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Rektor ITB Prof Reini Wirahadikusumah menyambut baik pencapaian tersebut. “Saya mengucapkan selamat kepada bangsa Indonesia, bahwa perguruan-perguruan tinggi yang ada di negara kita telah menunjukkan daya saing yang relatif unggul,” kata Reini, dilansir dari laman ITB, Rabu (10/3).

QS Asia University Rankings 2021 memaparkan, pemeringkatan ini dilihat dari 11 indikator, antara lain reputasi akademik, penilaian pimpinan, kutipan yang digunakan dalam jurnal, jumlah akademisi dengan gelar doktor, dan jumlah mahasiswa per fakultas.

Dalam pemeringkatan itu, UGM mendapat skor 37,4, UI skornya 34 dan ITB skornya 33,3. Reini menyampaikan, dibandingkan dengan tahun lalu, tiga kampus dengan skor dan peringkat tertinggi di Indonesia ini mengalami peningkatan.  ITB sendiri naik 18 peringkat dunia, dari 331 menjadi 313.

“Dalam peringkat QS terbaru ini, posisi ITB dan beberapa perguruan tinggi lain di Asean dalam posisi lebih baik, walau tidak nomor satu,” ujar Reini lagi.

Ia melanjutkan, dalam pemeringkatan itu sebanyak 9 bidang di ITB masuk dalam jajaran 10 Besar di Asean, yaitu Seni dan Desain (peringkat 3); Teknik Perminyakan (4); Ilmu Komputer, Sistem Informasi, Teknik Sipil (6); Teknik Elektro, Teknik Mesin, Matematika (8); Fisika, Astronomi, Arsitektur (9).

Di Indonesia, ITB menempatkan 10 bidang pada peringkat terbaiknya, terdiri dari 9 bidang di atas ditambah dengan program Teknik Kimia. Menurutnya, spesialisasi program studi  adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya saing pada perguruan tinggi.

“Ini tantangan kita bersama, dan kita perlu saling bergandengan tangan untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi dan riset, dan sejalan dengan prinsip ITB, yaitu 'In harmonia progressio' atau bekerja bersama membangun bangsa,” ujar rektor perempuan pertama di ITB itu.

Dalam prakteknya, Reini menyarankan agar pemerintah menentukan kluster bidang ilmu kepada PTNBH sebagai penugasan khusus dan diberikan pendanaan khusus.

Selain itu juga perlu dilakukan resources sharing terhadap advanced laboratorium equipments dan competitive collaboration agar program lebih efisien namun tetap mendorong daya saing setiap perguruan tinggi.

"ITB sendiri telah memulai dengan berbagai program, antara lain kerja sama dengan dalam negeri dan luar negeri, seperti program MIRA Bersama MIT dan UKICIS dengan perguruan tinggi di Inggris," bebernya.

ITB juga telah menentukan untuk fokus dalam pengembangan ilmu dan teknologi nano, artificial intelligence (kecerdasan buatan), information technology, bioteknologi, energi terbarukan dan infrastruktur berkelanjutan.

“Rangking adalah salah satu indikator, namun yang lebih penting adalah upaya kepemimpinan transformasional di semua lini dan di semua tingkat manajemen kampus” pungkas Reini kepada seluruh sivitas akademika ITB. (H-2)

 

BERITA TERKAIT