07 March 2021, 13:05 WIB

Ahli: 11 dari 17 Tujuan SDG's Memerlukan Peran Geologi


Zubaedah Hanum | Humaniora

SUSTAINABLE Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia. SDGs ini berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada 2030 mendatang.

Ke-17 target SDS's itu adalah tanpa kemiskinan; tanpa kelaparan; kehidupan sehat dan sejahtera; pendidikan berkualitas; kesetaraan gender; air bersih dan sanitasi layak; serta energi bersih dan terjangkau.

Kemudian, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; industri, inovasi dan infrastruktur; berkurangnya kesenjangan; kota dan pemukiman berkelanjutan; konsumsi dan produksi bertanggungjawab; penanganan perubahan iklim; ekosistem lautan; ekosistem daratan; perdamaianm keadilan dan kelembagaan yang tangguh; serta kemitraan untuk mencapai tujuan.

Menurut ahli geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Eng Imam Achmad Sadisun ST, MT, 11 dari 17 tujuan SDG's memerlukan peran geologi. Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah bertema Kembali ke Bumi Menuju Pembangunan yang Harmoni di acara Peringatan Dies Natalis ke-62 ITB, pekan lalu.

"Ada 11 dari 17 tujuan pembangunan memerlukan peran aspek geologi. Dua di antaranya yang akan saya bahas dalam orasi ini, yaitu geologi teknik dan bahaya-bahaya beraspek geologi (geohazards),” ujar Imam saat mengawali orasi ilmiahnya, seperti dilansir dari laman ITB, Minggu (7/3).

Ia menjelaskan, geologi teknik memiliki kaitan erat dengan pembangunan infrastruktur, baik di luar atau di dalam bumi.  Geologi teknik diterapkan untuk pembangunan bendungan, jalan, jembatan, terowongan, pelabuhan, bandara dan bangunan gedung.

"SDG's ke-9 yakni infrasktruktur, industri dan inovasi sangat berkaitan dengan geologi teknik guna terlibat dalam pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan," kata Imam.

Ia mengungkapkan, beberapa kendala pembangunan seperti pembengkakan biaya dan keterlambatan jadwal kerap disebabkan oleh permasalahan geologis dan solusi terbaik dalam menghadapi kondisi ini adalah dengan melakukan kajian kondisi geologi sedini dan seakurat mungkin. "Sehingga potensi adanya masalah-masalah tersebut dapat diminimalkan,” cetus dosen dari Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.

Beberapa studi kasus terkait geologi diutarakan Imam. Misalnya, kasus batuan lunak yang banyak terjadi pada sejumlah proyek pembangunan di beberapa tempat. Kasus terkait batuan lunak ditemukan pada proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Jawa Barat, Tol Cipularang, jalan Tol Semarang-Bawen, PLTA Peusangan I dan II di Aceh, jalan Wulukubun (Arso XIV) - Yamas - Trans Senggi, di Papua, dan masih banyak lagi.

Imam pun mengingatkan pentingnya kajian slaking secara baik dan cermat. "Guna mencegah timbulnya masalah saat melakukan pembangunan infrastruktur di batuan lunak, kajian slaking harus dilakukan dengan baik dan cermat. Tidak semua batuan lunak memiliki perilaku slaking yang sama, terutama dalam hal mekanisme maupun kecepatannya," sebut Imam.

Ada empat mekanisme utama dalam slaking, yaitu dispersion slaking, surface slaking, swelling slaking, dan body slaking. Mekanisme ini, kata Imam, umumnya dapat dengan baik diamati melalui metode observasi secara visual.

Studi lain yang dibeberkannya adalah mengenai pemodelan longsoran dengan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligent). Pemodelan ini dilakukan untuk mendapatkan peta kerentanan longsoran yang memuat peringkat dan distribusi spasial pada suatu wilayah yang memiliki potensi longsoran.

Imam menjelaskan kecerdasan buatan berperan dalam pengelolaan dan analisis data di masa lampau untuk memprediksi kejadian di masa mendatang. Walaupun terobosan ini masih dalam tahap pengembangan dan belum sempurna, Imam meyakini strategi ini dapat melindungi seluruh hasil pembangunan yang telah dicapai di masa depan.

Di akhir orasi ilmiah, Imam mengingatkan makin kompleksnya permasalahan yang dialami bumi. Karena itu, sudah saatnya kita kembali ke bumi.

"Perlu adanya inovasi baru untuk menangani permasalahan tersebut, khususnya pada aspek geologi. Saya yakin dengan kepeloporan ITB dalam pengembangan sains, teknologi, seni, dan ilmu sosial-humanioranya, ITB akan mampu berperan aktif dalam menangani berbagai permasalahan bangsa saat ini,” tutupnya. (H-2)

BERITA TERKAIT