06 March 2021, 22:15 WIB

Berlatih Kaligrafi Di Tengah Pandemi


Paujan Azim, Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Fasilitator Pembelajaran Tanoto Foundation | Humaniora


MEREBAKNYA virus korona membuat segala aktivitas berjalan tak seperti biasanya, termasuk kegiatan pembelajaran. Dari yang seharusnya tatap muka, aktivitas ini pun diganti melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Aktivitas PJJ merupakan kegiatan formal peserta didik dan pengajarnya berada di lokasi terpisah, sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya. Tak ada lagi dinding kelas, ornamen, bahkan interaksi fisik seperti canda dan tawa. Semua tingkatan pendidikan mengalami dan menjalani sistem ini.

Pada mata kuliah kaligrafi pun, yang semestinya lebih pas melakukan interaksi secara langsung, juga disampaikan jarak jauh. Dalam kaligrafi ini mahasiswa memiliki pengetahuan tentang kaidah penulisan kaligrafi naskhi, melatih konsentrasi berpikir, dan membiasakan diri untuk sabar menulis. Sistem yang dilakukan pun memanfaatkan sejumlah fitur dan aplikasi e-learning sebagai sarana pembelajaran.

Seperti pada beberapa pekan silam, sehari sebelum pra perkuliahan dimulai mahasiswa disibukkan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan pada untuk menulis kaligrafi. Termasuk berdiskusi sesama teman, dosen membahas materi dan link tutorial kaligrafi pada grup WhatsApp. Kegiatan perkuliahan melalui aplikasi zoom.

Materi yang diberikan ialah kaligrafi naskhi dan kaidah penulisannya. Kemudian dilakukan tanya jawab, menampilkan video tutorial cara menulis kaligrafi naskhi. Kepada mahasiswa dilatih untuk menulis titik dengan benar menggunakan pena kaligrafi. Menulis titik ini merupakan keterampilan awal yang harus dimiliki mahasiswa yang akan belajar kaligrafi.

Pada pertemuan kedua, mahasiswa berlatih menulis 28 huruf hijaiyah yang dimulai dari huruf alif sampai ya. Latihan ini dilakukan berulang agar mereka menguasai teknik penulisannya. Selanjutnya menyambung huruf menjadi kata yang sudah ditentukan seperti kata baabun (pintu) secara berulang. Hasil karya mereka dipresentasikan secara individu melalui zoom. Setiap peserta harus mengomentari karya temannya.

Kritik, saran, maupun pujian merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Semua itu perlu dicatat sebagai perbaikan bagi penyempurnaan karya mereka. Pada ujian akhir semester, mahasiswa menulis surah al-Asr dengan dihiasi ornamen. Untuk memastikan orisinalitasnya maka diujicoba kembali menulis kaligrafi lewat zoom. 

Akhir perkuliahan jarak jauh ini mereka diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menulis kaligrafi. Keterampilan seperti ini hanya bisa didapat jika tekun melakukan latihan dan berulang. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi mereka agar mendapat hasil yang memuaskan, yaitu 3L (latihan, latihan, latihan).

"Pertama kali menulis kaligrafi rasanya tulisan saya susah rapi. Setelah mengikuti anjuran untuk berlatih berlatih dan berlatih, lama-lama tulisan saya mulai rapi. Saya menyukai kaligrafi ini, apalagi hasil karya dipresentasikan dan bertanya jawab tentang kaidahnya. Selain menambah pengetahuan ternyata belajar kaligrafi itu asyik ya, walaupun banyak keterbatasannya," ujar Riska Amelia, salah satu mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Negeri (UIN) Jambi.

Dampak positif dari PJJ ini membuat tenaga pengajar harus ekstra belajar menggunakan teknologi. Mau tidak mau harus bisa mengoperasikan berbagai macam fitur dan beragam aplikasi yang ada di internet. Penguasaan teknologi bukan lagi sebatas kewajiban tetapi sudah menjadi tuntutan. 

Kelebihan lain dari PJJ tidak terbatas tempat dan waktu. Di manapun kita berada bisa melakukan proses belajar mengajar. Pandemi memang tidak kita harapkan tetapi proses belajar harus tetap berjalan. Tentunya kita kita berharap pembelajaran bisa normal kembali. Bagaimanapun peran tenaga pengajar tidak dapat digantikan oleh teknologi. Selama masa pandemi sistem PJJ menjadi salah satu alternatif solusi, meski bukan berarti tanpa evaluasi. Semoga semua ini cepat usai dan kita tak lagi dihantui pandemi.

Paujan Azim, Peserta Peningkatan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia

BERITA TERKAIT