06 March 2021, 13:35 WIB

Menhub dan Ketua Satgas Covid-19 Tinjau Kesiapan Kelas Tatap Muka


Dede Rianto/Metro tv | Humaniora

SEJUMLAH perguran atau Sekolah Tinggi Transportasi mengaku tengah menyiapkan kegiatan praktik tatap muka. Beberapa sekolah tinggi itu yakni Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI), Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI-STTD), dan Sekolah Tinggi Pelayaran Indonesia (STIP). Untuk tahap percontohan, akan diterapkan di PPI Curug.

Dalam rangka itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, Plt Kepala BPS DMP Zulfikri, serta Deputi III BNPB Dody Ruswandi  meninjau persiapan kegiatan belajar mengajar tatap muka (on campus) untuk kegiatan praktik di Politeknik Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten pada Sabtu (6/3).

Baca juga: Tulungagung Rencanakan Belajar Tatap Muka Mulai Juli 2021

“Kesiapan kegiatan belajar mengajar secara on campus ini harus dilakukan dengan hati-hati, konsisten dan dilakukan secara bertahap,” kata Menhub.

Menhub mengatakan, kegiatan praktik tatap muka akan dilakukan dengan metode block system. Nantinya, para pengasuh atau pengajar dan taruna tidak boleh keluar-masuk area kampus selama dilakukannya kegiatan praktek di kampus selama 2-3 minggu. Menhub menjelaskan, rencana penerapan kegiatan ini telah dikoordinasikan dengan Satgas Penanganan Covid-19.

Untuk diketahui, Sekolah Tinggi Kemenhub merupakan pendidikan vokasi yang memiliki perbandingan kegiatan praktikum dan teori dengan prosentase  70% praktik dan 30% teori. Itu sebabnya kegiatan praktik secara tatap muka perlu dilakukan, dalam rangka pemenuhan standar pembelajaran sesuai dengan ketentuan International Civil Aviation Organization (ICAO) untuk SDM Penerbangan dan International Maritime Organization (IMO)untuk SDM pelayaran, yang mengharuskan para taruna/i menggunakan fasilitas/simulator yang tersedia di sekolah.

Sebelumnya, Kemenhub juga telah melakukan studi banding (benchmarking) dengan beberapa sekolah kedinasan yang telah lebih dulu melakukan kegiatan belajar mengajar tatap muka, seperti : Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta, Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya dan Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.

“Saya minta pihak sekolah dan para taruna-taruni agar memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dengan terus konsisten menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Jika terjadi penularan agar segera di stop dan lakukan evaluasinya,” ujar Menhub.

Sementara itu, Kepala BNPB/Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengaku telah mendapatkan penjelasan dari pengelola PPI Curung mengenai penerapan pembelajaran tatap muka melalui metode block system.

“Saya melihat ini adalah cara yang sangat baik, yang mampu meminimalkan risiko terpaparnya covid-19. Tetapi yang paling penting adalah konsistensi penerapannya. Jangan sampai di awal ketat, kemudian di tengahnya kendor. Saya melihat kesiapan prakondisi sudah dilakukan dengan baik oleh pihak sekolah,” ujar Doni.

Menurutnya, yang paling berbahaya jika terjadi penularan di dalam asrama sekolah adalah para pengasuh/pengajar yang berusia di atas 47 tahun dan memiliki penyakit penyerta (komorbid).

“Berdasarkan data, kematian tertinggi karena covid-19 adalah mereka yang berusia di atas 47 tahun dan memiliki komorbid seperti diabetes, jantung, ginjal, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, apabila ada pengasuh/pengajar yang berusia di atas 47 tahun dan memiliki komorbid sebaiknya tidak melakukan pertemuan fisik atau tatap muka,” tegasnya.

Ia juga mengimbau, jika ada taruna/i atau pengajar yang terpapar covid-19 agar tidak dilakukan karantina mandiri di area sekolah, melainkan langsung dibawa ke Wisma Atlet. Ia juga meminta pihak sekolah terus berkoordinasi intensif dengan Satgas Penanganan Covid-19. (RO/Des/A-1)

BERITA TERKAIT