04 March 2021, 17:40 WIB

Percepat Deteksi Mutasi Virus B117, Menristek Minta Perbanyak WGS


Faustinus Nua | Humaniora

Mutasi virus Covid-19 B117 asal Inggris telah menyebar ke sejumlah negara termasuk Indonesia yang mengkonfirmasi 2 pasien. Hal itu dikhawatirkan bisa mengganggu proses vaksinasi nasional yang tengah berlangsung.

Menanggapi hal itu, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro meminta agar Whole Genome Sequencing (WGS) di Indonesia terus diperbanyak dan difokuskan kepada semua pendatang dari luar negeri. Sehingga, deteksi mutasi virus bisa dilakukan lebih cepat dan segera ditangani.

"Memperbanyak WGS. Singapore sudah lebih dar 1000, kita baru 400-an," ungkapnya kepada Media Indonesia, Kamis (4/3).

Baca juga: Menristek: Indonesia tak Lakukan Nasionalisasi Riset Covid-19

Dijelaskannya, upaya untuk memperbanyak WGS telah dilakukan sejak ditandatangi MOU bersama Menteri Kesehatan pada Januari 2021. Sejak itu, Indonesia mempunyai genomic survaillance untuk mendeteksi varian virus baru dan berfokus pada pelaku perjalanan dari Inggris dan sekitarnya.

"Karena mutasi baru ini dari Inggris, surveillance awal fokus pada orang-orang positif PCR yang datang dari Inggris dan sekitarnya. Ternyata setelah diperluas ke orang-orang yang datang dari luar negeri, munculnya dari Saudi," jelasnya.

Sesuai dengan MOU bersama Menkes, upaya memperbanyak WGS dilakukan dengan menambah anggaran dan juga lembaga. Kedua Kementerian telah menetapkan anggaran masing-masing sejak Januari dan akan dipergunakan semaksimal mungkin untuk mepercepat deteksi varian virus.

"Sudah ada 10 lembaga, yang paling aktif Litbangkes dan Eijkman. Anggaran di-share Kemenkes dan Kemenristek/BRIN. Yang di Ristek/BRIN disiapkan 25 M untuk percepatan WGS di Eijkman," paparnya.

Adapun, sebelumnya WGS dilakukan untuk meneliti karakteristik virus dalam upaya mengembangkan vaksin di Indonesia. Namun, ternyata WGS tersebut juga dimanfaatkan untuk surveilans setelah munculnya varian virus Covid-19 baru dibeberap negara.

BERITA TERKAIT