04 March 2021, 11:01 WIB

Teknologi Canggih ini Maksimalkan Keberhasilan Bayi Tabung


Eni Kartinah | Humaniora

PROGAM bayi tabung atau in-vitro fertilization (IVF) menjadi salah satu solusi bagi pasangan suami istri yang kesulitan memiliki anak.

Dalam prosesnya, sel sperma dan sel telur diambil dari pasangan suami istri. Lalu, di laboratorium, kedua sel itu dipertemukan sehingga terjadi pembuahan.

Hasil pembuahan ditempatkan dalam inkubator khusus hingga berkembang menjadi embrio. Selanjutnya, embrio ditanam ke rahim agar berkembang menjadi janin seperti pada kehamilan biasa.

Data penelitian menunjukkan, angka keberhasilan bayi tabung mencapai 30%-40%, paling tinggi di antara program kehamilan berbantu lain seperti penggunaan obat-obatan dan inseminasi intra-uterin.

Kini, peluang keberhasilan itu semakin optimal dengan dukungan teknologi mutakhir yang memaksimalkan setiap tahapan program bayi tabung.

Apa saja teknologi itu? Simak penjelasan Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG-KFER, dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre berikut ini.

Pertama, teknologi Intra-cytoplasmic Morphologically-selected Sperm Injection (IMSI) atau teknik yang digunakan untuk memilih sel sperma terbaik sebelum disuntikkan ke dalam sel telur (proses pembuahan).

“Proses ini menggunakan teknologi pencitraan yang mampu memperbesar gambar sperma hingga 6.000 kali. Dengan demikian, kita bisa melihat bentuk dan gerak sel sperma dengan jelas," papar Prof. Budi pada webinar bertajuk Harapan Baru Miliki Buah Hati yang digelar RS Pondok Indah IVF Centre, beberapa waktu lalu.

"Untuk memperbesar peluang keberhasilan bayi tabung, kita perlu memilih sperma yang bentuknya sempurna, tidak ada cacat, dan geraknya juga bagus,” tutur Prof. Budi.

Teknologi selanjutnya ialah Intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI). Yakni, teknik untuk menginjeksikan sel sperma terbaik ke dalam sel telur terbaik (proses pembuahan).

Teknik ini sangat membantu pada kasus sel sperma tidak dapat masuk ke dalam sel telur dengan kekuatannya sendiri, misal karena kualitasnya kurang bagus.

Teknologi ini semakin maksimal dengan dukungan Oocyte Imaging System. Yakni, lensa khusus yang digunakan untuk melihat kematangan sel telur (oosit) berdasarkan posisi benang spindle-nya (benang pembelahan) sehingga risiko kerusakan sel telur akibat tertusuk saat injeksi sperma dapat dicegah.

Setelah proses pembuahan dilakukan, sel telur yang sudah dibuahi sperma perlu ditempatkan dalam inkubator khusus agar berkembang menjadi embrio. Kehadiran teknologi Timelapse Incubator membantu memaksimalkan proses ini. Timelapse Incubator ialah tempat penyimpanan embrio yang terdiri dari beberapa ruang dengan kamera dan mikroskop tertanam di tiap ruang tersebut.

 Alat ini dapat menangkap gambaran perkembangan embrio setiap lima menit tanpa harus mengeluarkannya dari inkubator, sehingga kualitas embrio lebih terjaga.

Setelah perkembangan embrio mencapai tahap blastosis, embrio akan diambil untuk ditanam ke rahim calon ibu. Pada tahap ini, ada teknologi Pre-implantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) yang sangat bermanfaat untuk memastikan kualitas embrio.

“PGT-A merupakan pemeriksaan kromosom yang dilakukan pada embrio untuk mengetahui adanya kelainan genetik sebelum ditanam ke rahim. Langkah ini penting, karena embrio yang memiliki kelainan genetik umumnya tidak akan berkembang baik dalam rahim,” terang Prof. Budi.

Setelah embrio dipilih dan dipastikan berkualitas baik, proses selanjutnya ialah penanaman embrio ke  dalam rahim. Pada tahap ini, ada teknologi Laser Assisted Hatching yang membantu memaksimalkan hasilnya.

Teknologi ini menggunaan laser untuk menipiskan dinding sel embrio agar lebih mudah menempel pada dinding rahim. “Penggunaan laser ini meminimalkan risiko kerusakan embrio karena proses penipisan bisa lebih cepat dan terkontrol,” imbuh Prof. Budi.

Lebih Muda, Lebih Baik

Kehadiran beragam teknologi canggih itu sangat bermanfaat memaksimalkan peluang keberhasilan program bayi tabung. Namun demikian, ada faktor lain yang juga sangat menentukan kesuksesan bayi tabung. Yakni, usia istri atau si calon ibu.

“Keberhasilan program bayi tabung mencapai angka tertinggi jika calon ibu berusia di bawah 35 tahun,” papar  dr. Yassin Yanuar Mohammad, Sp.OG-KFER, dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre.

“ Semakin dini pasangan suami istri dengan gangguan kesuburan melakukan pemeriksaan dan melakukan program reproduksi berbantu, maka semakin besar peluang keberhasilan untuk mendapatkan kehamilan,” jelasnya.

“Sebab, semakin tua usia perempuan, kuantitas dan kualitas sel telurnya akan berkurang. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan apabila Anda mengalami gangguan kesuburan,” tutur  dr. Yassin.

Ia menambahkan, secara medis gangguan kesuburan didefinisikan sebagai kondisi ketika pasangan suami istri telah berhubungan intim secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama satu tahun, namun belum berhasil menciptakan kehamilan.

 “Jadi, jangan menunggu berlama-lama, kalau sudah setahun berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi tapi tak kunjung hamil, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk dicar penyebab dan solusinya. Selain bayi tabung, ada juga beberapa metode lain, dokter akan membantu menentukan langkah terbaik,” terang dr. Yassin.

Pada kesempatan sama, Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS mengungkapkan, berdasarkan data BKKBN tahun 2015, setidaknya ada 47 juta pasangan usia subur di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 10%-15% di antaranya mengalami gangguan kesuburan (infertilitas).

“Memahami kebutuhan pasangan suami istri yang mendambakan keturunan, kami menghadirkan RS Pondok Indah IVF Centre, sebuah klinik IVF modern yang dilengkapi teknologi terkini dan didukung oleh dokter-dokter konsultan dengan keahlian di bidang fertilitas,” ujar dr. Yanwar.

Ia menjelaskan, RS Pondok Indah IVF Centre yang berlokasi di RS Pondok Indah – Pondok Indah, Jakarta ini didukung sembilan dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang seluruhnya bergelar konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi dengan berpengalaman melakukan tindakan IVF selama bertahun-tahun.

 Selain itu, ada tim embriologis, dokter dari berbagai spesialisasi, dan fasilitas penunjang yang lengkap. Tentu saja, klinik ini juga dilengkapi teknologi mutakhir seperti IMSI, ICSI, Timelapse Incubator, hingga PGT-A.

“Setiap pasangan memiliki kondisi dan kebutuhan spesifik sehingga perencanaan program kehamilan juga akan berbeda dan membutuhkan pendekatan yang personal. Karena itu, kami menerapkan konsep pendampingan Konselor IVF pada seluruh rangkaian proses,” imbuh dr. Yanwar.

Meski bernama IVF Centre, klinik ini tidak hanya melayani program bayi tabung/IVF. Layanan program kehamilan lain juga tersedia, disesuaikan dengan kondisi dan diagnosis setiap pasien.

Layanan tersebut antara lain, inseminasi intrauterin (inseminasi buatan), induksi ovulasi, program kehamilan dengan siklus alamiah, pemeriksaan fertilitas pria dan wanita, penanganan penyebab infertilitas dengan prosedur invasif minimal, hingga fertility preservation atau teknologi penyimpanan sperma, sel telur atau embrio beku.

“Kami berharap layanan kesehatan reproduksi berbantu ini bisa menjadi pewujud asa para pasangan dengan infertilitas yang mendambakan buah hati,” pungkas dr. Yanwar. (Nik/OL-09)

 

BERITA TERKAIT