01 March 2021, 21:12 WIB

Merawat Jenazah Hanya Butuh Iklas dan Sabar


Tosiani | Humaniora

SIANG ini suasana Rumah Duka Dono Praloyo di Temanggung, Jawa Tengah lengang. Tidak ada jenazah yang disemayamkan hari itu. Meski demikian Timotiyus Budi Rahman, 38, seorang perawat jenazah tetap bersiaga di sana jika sewaktu-waktu ada yang meninggal dan membutuhkan persemayaman.

Pria asal Lingkungan Padangan, Temanggung ini sebelumnya tidak menyangka dirinya akan menjalani profesi sebagai perawat jenazah. Dari sana ia belajar memiliki hati yang tulus dan terus bergerak untuk kemanusiaan. Caranya dengan membantu mengurus, merawat jenazah sebelum dimakamkan maupun dikremasi.

Lelaki yang akrab disapa Tiyus ini mengaku sudah merawat jenazah semenjak 10 tahun terakhir. Mulanya ia adalah seorang pemangkas rambut. Untuk menunjang perekonomian keluarganya ia mencari sambilan dengan bekerja secara serabutan. Kemudian ia memutuskan menjadi perawat jenazah mengikuti jejak almarhum engkong (kakek) dan ayahnya.

"Jadi keluarga kami memang sudah turun temurun menjadi perawat jenazah sejak dari jaman Engkong, lalu Papa, kemudian saya sebagai generasi ketiga," tutur Timus, Senin (1/3), di Temanggung.

Tugas perawat jenazah, dijelaskan Tiyus, antara lain menunggu jenazah datang, merawatnya, menjalankan persemayaman dan menungguinya selama 24 jam, menghubungi pihak-pihak yang berkepentingan, hingga jenazah diberangkatkan menuju proses kremasi maupun pemakaman, hingga mengambil abu jenazahnya usai kremasi.

Untuk pekerjaan itu, Tiyus menerima gaji dari yayasan sebesar Rp1 juta per bulan. Penghasilannya akan sedikit bertambah jika ada jenazah yang masuk ke rumah duka untuk dirawat.

"Kalau tidak ada jenazah yang diurus saya tetap menjaga rumah duka di siang hari. Sepulangnya dari sini, saya kembali menjalankan pekerjaan sambilan sebagai tukang pangkas rambut,"ujar Tiyus

Dalam sebulan, lanjut Tiyus, sedikitnya ada tiga hingga lima jenazah yang masuk ke rumah duka untuk persemayaman. Namun, terkadang bisa lebih banyak seperti Februari 2021 lalu sampai ada enam jenazah yang harus dirawat.

Di rumah duka Dono Praloyo terdapat tiga ruangan untuk merawat jenazah, satu ruangan untuk memandikan, serta satu ruangan untuk menginap keluarga yang menunggui jenazah. Untuk menempati ruangan-ruangan itu dan menggunakan jasa persemayaman, pihak yayasan mengenakan tarif sewa sebesar Rp400 ribu per hari untuk non anggota yayasan.

Sedangkan untuk anggota diberikan potongan harga menjadi Rp200 ribu per hari. Namun para anggota perkumpulan yayasan yang jumlahnya sudah mencapai kisaran 1.000 orang ini memang sudah memberikan iuran pokok dengan besaran antara Rp2 ribu hingga Rp25 ribu per orang, dengan menyesuaikan kondisi ekonomi tiap orang.

"Namun untuk keluarga jenazah yang kurang mampu akan diberikan dispensasi berdasarkan kesepakatan dengan pengurus yayasan," katanya.

Biasanya jenazah disemayamkan paling lama tiga hari. Namun, jika ada keluarganya yang jauh dan perlu melihat, bertemu jenazah dulu sebelum dimakamkan atau dikremasi, maka waktu persemayaman bisa lebih panjang, yakni hingga satu pekan lamanya.

Menjadi perawat jenazah, diakui bapak dua anak ini tidak selalu mudah. Sepanjang bekerja ia telah menemui, merawat jenazah dalam berbagai kondisi. Ada yang dalam kondisi bagus, namun ada pula yang kurang bagus. Jika ada yang meninggal karena sakit parah dan membusuk, Tiyus mengatasinya dengan meletakan kopi dan teh di bawah kasur tempat jenazah disemayamkan. Aroma teh dan kopi yang begitu kuat akan mengharumkan seluruh ruangan.

"Yang penting merasa nyaman untuk membantu untuk sosial kemanusiaan dan bekerja dengan hati senang sebagai kunci bekerja di bidang ini. Saya bahkan sudah menganggap ini seperti rumah saya sendiri,"katanya.

Kendati mengurus mayat, suami dari Amihadiati, 30, ini mengaku tidak pernah mengalami hal-hal aneh selama menjalani pekerjaannya. Ia juga tidak melakukan upaya khusus untuk menghadapi jenazah. Yang terpenting adalah melakukannya dengan hati tulus dan ikhlas membantu. Karena bagi Tiyus, pada dasarnya semua orang juga nantinya akan meninggal.

Tiyus mengaku, dirinya pernah sekali mengalami mimpi yang aneh. Yakni salah seorang jenazah yang dirawatnya mendatanginya dan memintanya melepaskan tali yang mengikat wajah, tangan dan kaki pada yang bersangkutan. Tali pada wajah memang biasa ditautkan pada kondisi mayat yang meninggal dalam kondisi mulut terbuka agar mulutnya mengatup seperti orang tidur. Adapun tangan dan kaki diikat tali agar kondisi jenazah lurus.

"Ketika bermimpi itu saya tersadar, lupa melepaskan tali pengikat wajah, tangan dan kaki sebelum peti ditutup dan jenazah dimakamkan. Keesokan harinya saya langsung datang ke makam dan dari dasar hati saya meminta maaf,"tutur Tiyus.

Kejadian itu diakui Tiyus menjadi pelajaran berharga buatnya. Hingga sekarang ia terus mengingat untuk melepaskan tali sebelum dimakamkan. (OL-13)

BERITA TERKAIT